Sabtu, 04 April 2026

Fiksi Mini : ISTRI KORUPTOR

            Hari Minggu pagi Pak Narko berniat terus terang atas apa yang ia pendam selama ini.

Ya, uang yang ia dapatkan selama ini sebagai pegawai dengan posisi strategis untuk urusan laporan pengadministrasian segala hal. Ia tak mengatakan uang itu rizki, sebab ia sadar, itu uang dari hasil nakal, tetapi nakalnya orang tua. Jika menyebut rizki, berarti ini membawa-bawa nama Tuhan dalam kenakalannya. Ia ingin alamiah saja, mengalir seperti apa yang ia inginkan.

“Mah ..... hari ini aku dapat uang banyak.” Kata Pak Narko seraya memperhatikan wajah istrinya melihat bagaimana reaksi perubahan roman mukanya.

“Oh ya .... biasanya juga banyak.” Kata istrinya datar-datar saja.

“Mau nggak?”

“Ya mau laah ..... mana?” Tanya istrinya seraya menyorongkan telapak tangan yang ditengadahkan.

Dengan tersenyum Pak Narko menyodorkan gepokan uang ke tangan istrinya. Namun seperti biasanya, ia hampir tak pernah mendapatkan aplaus yang berlebihan. Misalnya memekik, atau mengepalkan tangan, memeluk, atau berjingkrak-jingkrak, ia tak pernah melihat itu.

Ilustrasi AI dari subnp.com


“Kok nggak gembira?”

“Yaaaah Papah mah, kan uangku sudah banyak, lima ratus juta lebih. Terus nggak tahu juga yang disimpan Papah, di rekening A, rekening B atau mungkin dititipkan di rekening atas nama X, Y atau Z. Jadi buat apa Mamah harus berjingkrak-jingkrak?”

“Mamah menduga aku punya rekening rahasia? Punya rekening untuk cuci uang?”

“Nggak menduga. Terserah Papah saja.”

“Kalau hari ini Papah mau berterus terang, Mamah mau nggak?”

“Memangnya selama ini Papah nggak berterus terang sama Mamah?”

“Emmm....... iya sih ..... “ kata Pak Narko perlahan.

“Oh ya syukur, Papah ternyata orangnya jujur, mau mengakui bahwa selama ini ada yang dirahasiakan.”

“Maaah....”

“Apa?”

“Sebenarnya uang yang Papah miliki itu banyak sekali yang hasil korupsi, atau gratifikasi.”

“Ooooo .... gitu ....” Kata istrinya datar.

“Kok nggak kaget?”

“Ya kenapa harus kaget?”

“Kan Mamah ikut menikmati hasil korupsi ini.”

“Memang kalau ikut menikmati kenapa?”

“Kan malu atau bagaimana gitu ......”

“Kenapa harus malu? Kan istri itu diberi nafkah oleh suaminya ya diterima kan? Kan saya dari dulu waktu terima lamaran Papah, aku yakin Papah itu orang yang baik.”

“Kalau korupsi Papah terbongkar bagaimana?”

“Ya itu kan urusan Papah ..... “

“Kan Mamah ikut menikmati!”

“Memang waktu Papah ngasih uang ke Mamah itu hal yang salah, itu perkara korupsi? Enggak kan?”

“Jadi bagaimana ini? Mamah ikut berdosa lho!”

“Istri dikasih nafkah suami, dikasih uang oleh suami itu halal Pah! Kalau Papah mau dosa ya silakan tanggung sendiri, jangan bawa-bawa istri.”

“Kan Mamah kan nggak pernah mengingatkan kalau itu dosa.”

“Lah papah sendiri sudah tahu dosa ...... Tahu korupsi itu dosa kan?”

“Tahu.”

“Ya sudah .... pikir sendiri ... urusan dosa jangan bawa nama istri dan anak-anak!”

Hari itu bagi pak Narko tak habis pikir ada orang yang pikirannya semacam istrinya. Tetapi ia juga tak habis pikir mengapa ia menjadi seperti sekarang ini, tahu korupsi itu dosa tetapi masih memilih korupsi. ***

 04-04-2026

878