Assalaamu'alaikum!

TERIMA KASIH BANYAK SAHABAT SUDAH BERKUNJUNG KE SINI ........ DINANTI HADIRNYA KEMBALI DI SINI UNTUK MENENGOK KONTEN BARU YA ...

Sabtu, 04 April 2026

Fiksi Mini : ISTRI KORUPTOR

            Hari Minggu pagi Pak Narko berniat terus terang atas apa yang ia pendam selama ini.

Ya, uang yang ia dapatkan selama ini sebagai pegawai dengan posisi strategis untuk urusan laporan pengadministrasian segala hal. Ia tak mengatakan uang itu rizki, sebab ia sadar, itu uang dari hasil nakal, tetapi nakalnya orang tua. Jika menyebut rizki, berarti ini membawa-bawa nama Tuhan dalam kenakalannya. Ia ingin alamiah saja, mengalir seperti apa yang ia inginkan.

“Mah ..... hari ini aku dapat uang banyak.” Kata Pak Narko seraya memperhatikan wajah istrinya melihat bagaimana reaksi perubahan roman mukanya.

“Oh ya .... biasanya juga banyak.” Kata istrinya datar-datar saja.

“Mau nggak?”

“Ya mau laah ..... mana?” Tanya istrinya seraya menyorongkan telapak tangan yang ditengadahkan.

Dengan tersenyum Pak Narko menyodorkan gepokan uang ke tangan istrinya. Namun seperti biasanya, ia hampir tak pernah mendapatkan aplaus yang berlebihan. Misalnya memekik, atau mengepalkan tangan, memeluk, atau berjingkrak-jingkrak, ia tak pernah melihat itu.

Ilustrasi AI dari subnp.com


“Kok nggak gembira?”

“Yaaaah Papah mah, kan uangku sudah banyak, lima ratus juta lebih. Terus nggak tahu juga yang disimpan Papah, di rekening A, rekening B atau mungkin dititipkan di rekening atas nama X, Y atau Z. Jadi buat apa Mamah harus berjingkrak-jingkrak?”

“Mamah menduga aku punya rekening rahasia? Punya rekening untuk cuci uang?”

“Nggak menduga. Terserah Papah saja.”

“Kalau hari ini Papah mau berterus terang, Mamah mau nggak?”

“Memangnya selama ini Papah nggak berterus terang sama Mamah?”

“Emmm....... iya sih ..... “ kata Pak Narko perlahan.

“Oh ya syukur, Papah ternyata orangnya jujur, mau mengakui bahwa selama ini ada yang dirahasiakan.”

“Maaah....”

“Apa?”

“Sebenarnya uang yang Papah miliki itu banyak sekali yang hasil korupsi, atau gratifikasi.”

“Ooooo .... gitu ....” Kata istrinya datar.

“Kok nggak kaget?”

“Ya kenapa harus kaget?”

“Kan Mamah ikut menikmati hasil korupsi ini.”

“Memang kalau ikut menikmati kenapa?”

“Kan malu atau bagaimana gitu ......”

“Kenapa harus malu? Kan istri itu diberi nafkah oleh suaminya ya diterima kan? Kan saya dari dulu waktu terima lamaran Papah, aku yakin Papah itu orang yang baik.”

“Kalau korupsi Papah terbongkar bagaimana?”

“Ya itu kan urusan Papah ..... “

“Kan Mamah ikut menikmati!”

“Memang waktu Papah ngasih uang ke Mamah itu hal yang salah, itu perkara korupsi? Enggak kan?”

“Jadi bagaimana ini? Mamah ikut berdosa lho!”

“Istri dikasih nafkah suami, dikasih uang oleh suami itu halal Pah! Kalau Papah mau dosa ya silakan tanggung sendiri, jangan bawa-bawa istri.”

“Kan Mamah kan nggak pernah mengingatkan kalau itu dosa.”

“Lah papah sendiri sudah tahu dosa ...... Tahu korupsi itu dosa kan?”

“Tahu.”

“Ya sudah .... pikir sendiri ... urusan dosa jangan bawa nama istri dan anak-anak!”

Hari itu bagi pak Narko tak habis pikir ada orang yang pikirannya semacam istrinya. Tetapi ia juga tak habis pikir mengapa ia menjadi seperti sekarang ini, tahu korupsi itu dosa tetapi masih memilih korupsi. ***

 04-04-2026

878

 



 

Senin, 02 Februari 2026

Cerpen jadul : BAYANGAN DI PELAMINAN

 

                                                           Ilustrasi AI dari subnp.com

Matahari telah sepenggalah. Rasman meraba ban sepeda. Kenyal. Ia puas. Sejurus kemudian lelaki-laki separuh baya itu menepuk-nepukkan kedua belah telapak tangannya untuk membersihkan debu. Sepeda dengan bagian belakang penuh barang dagangan mainan anak-anak telah siap.

“Akang tidak hadir di acara Pak Kandar?” tanya Mustirah, istrinya, seraya bersandar di kusen pintu.

“Aku sudah ijin ke Pak Kandar. Tadi malam kan sudah ikut lek-lekan di rumah beliau.”

“Lalu apa katanya?”

“Nggak apa-apa kata Pak Kandar. Jualan mainan anak-anak di balandongan hajatan banyak laku. Hari ini ada tiga tempat yang mengadakan hajatan. Sayang kalau aku lewatkan begitu saja.”

“Kalau begitu terserah Akang. Biar aku yang hadir di sana nonton kawinan si Inayah.”

“Tadinya aku ingin jualan di Pak Kandar, tapi malu.”

“Iya, iyaa….. sudah berangkat sana. Mudah-mudahan dapat rizki banyak.”

“Amin.”

“Itu kopinya dihabiskan. Nasinya juga….”

“Iya. Terimakasih …” kata Rasman pelan. Tak ada kata terucap lagi dari bibir Tirah.

Pagi menjelang siang Tirah mengantar suaminya berangkat mengais rizki. Dipandangi suaminya hingga hilang di pengkolan gang kecil. Setelah itu perempuan yang biasa menjadi tukang cuci di rumah Bu Lurah bersiap-siap mengganti pakaian dengan yang lebih bagus. Hari itu memang ia dapat ijin dari Bu Lurah untuk tidak mencuci, sebab rumah Pak Kandar hanya berselang empat rumah, malu kalau tak ada yang ikut meramaikan hajatan.

Halaman Pak Kandar telah ramai. Persiapan penyambutan pengantin laki-laki telah dilakukan sejak dua hari lalu. Panggung pelaminan telah terpasang megah. Kursi-kursi telah rapi berderat. Tempat prasmanan telah siap dengan hidangan yang bermacam-macam. Di pinggir jajaran kursi telah siap pula panggung hiburan organ plus.

Tak berapa lama sesuai jadwal perhitungan mantu, rombongan pengantin pria datang. Kegiatan  penyambutan berlangsung. Adat daerah dengan segala keunikan dengan kearifan lokal disajikan, dengan salah satu tujuan pula untuk tetep melestarikan budaya daerah. Tentu, bagi calon pengantin, dan dua keluarga yang akan bersatu, acara ini menjadi sebuah momen sacral sekaligus meriah yang tak akan dapat dilupakan.

Kini Tirah telah berada di kerumunan ratusan orang, baik rombongan tamu pengantar maupun penyambut maupun penggembira dari kampung sendiri. Tirah melihat di gang masuk lingkungan hajatan banyak orang berjualan. Perempuan itu mendesah. Ia ingat Rasman suaminya. Ia berdoa semoga dagangan suaminya laris seperti dagangan pedagang di lingkungan Pak Kandar. Sebagian focus ke acara. Sebagian lain ada kegiatan sendiri. Tak ketinggalan pula suasana yang penuh keceriaan itu ditimpa suara anak-anak kecil yang meminta mainan. Sebagian ibu-ibu menuruti permintaan anak-anaknya, sebagoan lagi bersungut-sungut sambil mengendong anaknya menjauh dari penjual mainan. Bahkan ada yang mencubit paha anaknya agar diam.

“Penjual sialan! Bikin anak kecil ribut saja …. Memangnya semua orang punya uang apa?!” keluh ibu-ibu yang menggendong anaknya beringsut mundur dari jajaran depan. Kini berdiri berdampingan dengan Tirah.

“Biasa anak kecil bu …. “ Tirah reflek menimpali keluhan ibu-ibu.

“Iya sih, tapi ya itu, bikin anak ribut. Lah namanya anak-anak kadang-kadang tak bisa mengerti kesulitan orang tua.”

“Iya …iya …..”

Tirah manggut-manggut sambil menjauh dari ibu tadi. Hatinya merasa tersindir. Andai ibu tahu jika suamainya sedang berjualan mainan yang sama di tempat lain. Tapi ia tak memperpanjang perasaannya. Perempuan setengah baya itu mundur hingga berdiri di jajaran yang paling belakang.

Dari tempat itulah Mustirah menonton seluruh acara mulai dari acara penambutan, serah terima calom pengantin, akad nikah hingga acara kedua pengantin yang telah resmi menjadi. Musik khas daerah degung yang mengiringi setiap prosesi pernikahan putri Pak Kandar benar-benar membawa suasana yang sakral. Semua hadirin tampak seperti terhipnotis.

Tirah menelan ludah. Dadanya terenyuh. Bibirnya terkatub. Tak terasa, kelopak matanya panas. Desakan air mata yang mengembang tak dapat ditahan. Kerongkongannya sesak. Perlahan perempuan itu mengusap air matanya dengan punggung tangannya. Tirah berusaha bertahan menahan isaknya. Berat. Akhirnya merasa tidak mampu menahan isaknya, ia diam-diam menyelinap dengan menunduk berjalan cepat meninggalkan halaman rumah Pak Kandar.

Sampai di rumah Tirah masuk kamar. Desakan tangis yang menggelegak akhirnya tumpah. Ia menangis tersedu-sedu. Air matanya tumpah membasahi bantal kusam. Hingga hampir lima menit ia menangis dalam kesendirian. Namun sayup-sayup suara music degung dari halaman rumah Pak Kandar masih sangat jelas terdengar.

“Ya Allaaaah …… mengapa aku tak pernah mengalami masa-masa seindah anak Pak Kandar? Mengapa aku sebagai permpuan tak pernah merasakan indahnya menikah, semarak dan megahnya menikah. Aku menikah di kesunyian ya Allaaaah….. hanya ada akad wali dan saksi, serta mas kawin yang tak seberapa. Hanya disaksikan oleh tetangga kanan kiri… ya Allaaaaah …… mengapaaaaaa………??????!!” tanpa sadar perempuan itu berteriak kemudian  mencengkeram bantal hingga membanting-bantingnya.