algoritma menurunkan fungsi implisit
Blog ini merupakan blog random. Penulis mengunggah konten blog sesukanya dan sesempatnya. Jadi, ini blog jalur santai. Namun bagi yang mau berfikir keras mengikuti materi matematika ya ada sih. Mari kita lihat semua hal dari semua sisi untuk memperoleh manfaat positif apapun itu. Selamat berselancar!
Assalaamu'alaikum!
Selasa, 06 November 2018
Senin, 29 Oktober 2018
Jumat, 19 Oktober 2018
JARAK TITIK KE BIDANG DALAM KUBUS (Contoh 1 kasus)
Gambar 1
Gambar 2
Gambar 3
Bidang
BDHF jika dilihat secara frontal maka akan tampak seperti Gambar 3. Titik yang
berimpit dalam gambar ini adalah titik A, Q dan C . Demikian pula untuk titik
E, P dan G.
Bidang
ACH akan tampak diwakili oleh garis QH (sebab diambil posisi titik Q yang
berada dalam bidang diagonal BDHF).
Gambar 4
Untuk
menghitung jarak antara titik F ke bidang ACH, dapat diwakili dengan menghitung
panjang garis FO atau OF, dengan titik O merupakan titik tembus garis FD pada
bidang ACH.
Jika
FO diklaim sebagai jarak yang mewakili jarak antara titik F terhadap bidang
ACH, maka perlu dibuktikan terlebih dahulu bahwa FD tegak lurus garis QH.
Perhatikan
gambar berikut ini:
Gambar 5
Hasil-hasil yang diperoleh dipindahkan sehingga dipeoleh :
Gambar 6
MENYELIDIKI HUBUNGAN ANTARA FD DENGAN QH
Untuk meyakinkan dugaan bahwa FD menembus ACH tegak lurus atau
FO tegak lurus QH, maka akan digunakan aturan cosinus pada segitiga DOH.
19-10-2018
Selasa, 23 Januari 2018
Contoh (minimal) PROGRAM REMEDIAL
BAB I
PENDAHULUAN
A. L A. Latar Belakang
Ketercapaian
kompetensi dasar oleh para siswa merupakan tujuan pokok yang harus dipenuhi
oleh seorang guru. Berbagai macam metode dan pendekatan yang diterapkan dalam
kegiatan pembelajaran merupakan salah satu usaha yang dilakukan oleh para guru.
Kegiatan pembelajaran di dalamnya sering diwarnai pula dengan berbagai macam
bentuk motivasi pendukung . Akan tetapi di akhir sebuah proses pembelajaran
yang diakhiri dengan sebuah tes selalu
terdapat sebagian siswa yang
belum mencapai ketuntasan terhadap kompetensi yang telah ditentukan.
Sebagai
sebuah bentuk pelayanan dalam pembelajaran maka kegiatan pembelajaran ulang
wajib diberikan kepada para siswa yang masih belum mampu mencapai kriteria
ketuntasan minimal. Berbagai resiko yang muncul sebagai akibat dari kondisi ini
hendaknya diperhitungkan secara matang, sehingga seluruh jenis pelayanan dapat
dilakukan secara baik. Kelompok siswa yang sudah tuntas dapat mendapatkan
pelayanan pengayaan, yang belum akan mendapatkan layanan pembelajaran remedial.
Sebagai
rangkaian sebuah proses evaluasi , pembelajaran remedial merupakan sebuah
keharusan. Sebagaimana ciri khas pengertian evaluasi akan selalu memunculkan adanya sebuah proses yang sistematis, terencana dan
dilakukan secara kesinambungan, maka untuk memberikan pelayanan secara
jelas dan tepat sasaran maka pembelajaran remedial harus direncanakan secara
lengkap. Sebab bukan tidak mungkin di dalam proses pembelajaran remedial itu
terdapat informasi-informasi lain yang dapat bermanfaat bagi proses
pembelajaran reguler.
Mengingat bahwa perbaikan-perbaikan yang dilakukan acapkali
tidak langsung memberikan hasil yang diharapkan, maka diharapkan pencatatan
terhadap kemajuan siswa dilakukan dengan rinci. Dengan dasar latar belakang tersebut maka
penulis menyusun sebuah program remedial dengan nama :
PROGRAM REMEDIAL : PEMBELAJARAN DAN
TES - SUATU TINDAK LANJUT DARI EVALUASI HASIL PEMBELAJARAN - Tahun Pelajaran 2017 / 2018.
B. Tujuan
Tujuan dari program ini adalah :
1. Untuk memudahkan melakukan pemantauan pemberian
layanan secara merata terhadap siswa-siswa yang mengalami permasalahan dalam
mencapai ketuntusan minimal.
2. Untuk memberikan
kesempatan para siswa mencapai ketuntasan minimal yang telah
ditentukan.
3.
Untuk memudahkan melakukan
evaluasi terhadap proses
pembelajaran yang telah dilakukan.
4. Untuk
memberikan masukan data kepada para konselor dalam hal :
a.
Membuat diagnosis faktor-faktor kelemahan-kelemahan
siswa dalam belajar matematika.
b.
Menentukan acuan dalam melayani
kebutuhan siswa dalam rangka bimbingan karier berdasarkan
kemampuan siswa dalam mata pelajaran matematika.
BAB II
PEMBELAJARAN REMEDIAL
A. Kriteria
Keberhasilan seorang peserta didik, baik secara
individu maupun berkelompok dapat dilihat dari berapa persen tingkat
penguasaannya terhadap Kompetensi Dasar (KD) telah ditentukan dalam
kurikulum. Tingkat penguasaan terhadap
KD ini dirumuskan dengan adanya Ketuntasan Belajar Minimal (KBM) - atau setara dengan istilah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), yaitu nilai
batas penguasaan terhadap KB yang telah ditentukan untuk aspek pengetahuan dan keterampilan,
sedangkan untuk sikap tidak dilakukan tindakan remedial, namun
Minggu, 11 Juni 2017
Gerakan Nasional Tanpa Gadget (Bagi Anak)
Sumber gambar : feed.id
PengantarKita hidup di jaman seperti sekarang, tak bisa dihindari. Sebagaimana kita tak bisa menolak ketika Tuhan memilihkan kita kedua orang kita yang melahirkan. Berbahagia hidup di era digital, atau gelisah di era digital, keduanya relatif. Yang pasti, semua yang ada sekarang adalah sebuah keniscayaan yang sedang kita jalani. Sebuah dunia yang terbuka tanpa batas, hingga mampu menembus apa yang dulu kita sebut sebagai benteng.
Perkembangan “Peradaban” dengan Indikator Gadget
Perkembangan teknologi hasil dari kreativitas pikir manusia acapkali diidentikkan dengan perkembangan peradaban. Tolok ukurnya adalah produk barang. Bisa bangunan, bisa rekayasa (baik biologi maupun non biologi). Semakin barang yang diproduksi memudahkan manusia untuk melakukan sesuatu dibanding cara manual, maka barang tersebut disebut sebagai barang yang hebat.Sinergisitas antara produksi barang dengan faktor ekonomi masyarakat, tentu hal pasti. Barang yang hebat mendatangkan permintaan (demand) yang tinggi dari masyarakat. Produksi untuk memenuhi permintaan pasar akan melibatkan banyak tenaga kerja. Pembukaan pabrik akan memberikan kesempatan kerja bagi banyak orang. Artinya, meroketnya sebuah produk barang hebat, akan berbanding lurus dengan peningkatan ekonomi sebagian masyarakat. Sebuah fakta alamiah yang tak bisa ditolak.
Pun demikian dengan produksi gadget. Spesies yang tergolong dalam gadget misalnya smartphone, tablet, laptop, netbook, dan PS mengalami produksi yang demikian besar. Permintaan masayarakat, dan persaingan antar produsen dengan memberikan iming-iming fitur yang lebih canggih tak pelak lagi menjadi pemicu. Berapa nominal yang dikeruk dari bisnis gadget saat ini. Salah satu sumber CIA World Factbook (http://www.indonesia-investments.com/id/budaya/demografi/item67) menunjukkan bahwa persentase pengelompokkan kuantitas manusia Indonesia 0 – 14 tahun (27,3%), 15 – 65 tahun (66,5%) , sisanya 6,1% . Melihat gejala umum di lapangan, semakin banyak orang Indonesia yang menggunakan lebih dari satu gadget. Itu artinya bisa saja jumlah gadget yang melebihi usia layak pengguna gadget. Jika usia layak menggunakan gadget untuk kelompok pertama dimulai sejak SLTP, taruhlah tinggal 5% , maka perkiraan pengguna akan menjadi 5% + 67% + 6% = 78% . Jika penduduk Indonesia dimisalkan sebanyak 250.000.000 jiwa, maka 78%-nya sekitar 195.000.000 jiwa pengguna gadget. Angka ini tentu cenderung naik. Artinya hampir tak ada kebijakan atau kekuatan yang mampu menghentikannya.
Sampai-sampai dalam sebuah seloroh, bahkan ada yang mengatakan bahwa kebutuhan primer manusia itu adalah : Sandang, Pangan, Papan dan Gadget.
Kondisi soasial budaya masyarakat kita saat ini sadar atau tidak telah menjadikan gadget sebagai salah satu tolok ukur “maju perabadan”-nya atau tidak. Seseorang akan merasa ketinggalan jaman jika tak mampu mengoperasikan gadget. Dengan harga yang tak terlalu mahal, bahkan counter-counter atau agen menawarkan kepemilikan dengan cara kredit, semakin banyaklah masyarakat yang menggunakannya.
Menimbang Baik Buruknya Pengaruh Gadget pada Manusia
Jaman sekarang berbeda dengan jaman dahulu. Dahulu, jika kita ingin tahu keadaan keluarga yang jauh, maka kita akan menulis surat, mengirimkannya lewat jasa Pos, menunggu balasan lewat Pos juga setelah beberapa hari atau beberapa minggu. Jika manusia jaman sekarang melihat hal demikian, sepertinya akan berkomentar “kok bisa ya hidup seperti itu?” Beda dengan adanya gadget yang dimiliki, suatu saat ingin kontak, dalam hitungan detik terlayani apa yang kita inginkan.Senin, 23 Januari 2017
UN-ku Lebih Tinggi Daripada UN-mu? Kini Tak Lagi!
KONSEKUENSI PILIHAN MATA UJIAN UN
Setelah
wacana UN ditiadakan, kini muncul aturan baru tentang pelaksanaan UN tahun
2017. Memilih mata pelajaran dalam UN. Ini luar biasa.
Dalam surat
edaran Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementrian Pendidikan dan
Kebudayaan Nomor 0204/H/EP/2017 tanggal 11 Januari 2017 tentang Pendaftaran
Peserta Ujian Nasional 2017. Seorang siswa calon peserta UN akan diwajibkan
mengikuti 3 (tiga) mata pelajaran wajib yakni Matematika, Bahasa Indonesia dan
Bahasa Inggris, ditambah dengan 1 (satu) mata pelajaran yang adalam
jurusan/peminatan-nya. Dengan demikian pada masing-masing peminatan akan
terdapat 3 (tiga) komposisi yang diambil siswa. Untuk peminatan MIPA yakni (1)
Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Fisika, (2) Matematika, Bahasa
Indonesia, Bahasa Inggris dan Kimia, (3) Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa
Inggris dan Biologi, untuk peminatan IPS yakni (1) Matematika, Bahasa
Indonesia, Bahasa Inggris dan Ekonomi,
(2) Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Sosiologi, (3)
Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Geografi, untuk peminatan
Bahasa yakni (1) Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Antroplogi,
(2) Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Sastra Indonesia, (3)
Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Bahasa Asing (Bahasa asing
ciri khas sekolah).
Dampak Terkait Nilai UN
Dengan
terbitnya kebijakan baru semacam ini, ada beberapa konsekuensi yang cukup
memprihatinkan, terlepas apakah kebijakan tersebut telah melalui forum diskusi
panjang dan sumbang saran dari banyak pihak atau belum, inilah beberapa
prediksi dampak kebijakan baru tersebut.
Bebarapa hal
berkaitan dengan“nilai” yang akan hilang :
1. Rerata UN
sesama siswa satu peminatan/jurusan tak bisa dibandingkan lagi, sebab mata uji
UN yang dipilih berbeda-beda. Tak akan ada lagi sesama teman mengatakan “Nilai UN-ku lebih bagus diandingkan nilai
UN-mu”.
2. Tak ada
“juara” UN di sekolah atau di Kabupaten/Kota, sebab mata pelajaran yang
Senin, 28 November 2016
Grafik Excel - Grafex 22 untuk Mempermudah Memahami Grafik Fungsi Trigonometri
Alat Peraga GRAFEX 22 - Aplikasi Berbasis Excel
untuk lebih memahami bentuk grafik fungsi Trigonometri
Dalam kurikulum 2013 peminatan IPA terdapat materi Persamaan Trigonometri. Materi ini juga dihadapi oleh anak-anak IPS yang memilih Lintas Minat Matematika. Dua pendekatan, geometris dan analitis dapat dilakukan siswa.
Kedua-duanya dapat dipadu untuk meyakinkan penyelesaian sebuah persamaan trigonometri. Akan tetapi lahirnya pendekatan
Minggu, 27 November 2016
Induksi Matematika dalam Barisan Fibonacci
Barisan Fibonacci adalah barisan recursif (pemanggilan ulang /
pengulangan) yang ditemukan oleh seorang matematikawan berkebangsaan Italia
yang bernama Leonardo da Pisa.
Barisan ini berbentuk sebagai berikut:
1, 1, 2, 3, 5, 8, 13, ...
F0 = 0,
F1= 1,
F2 = 1,
F3 = F1 + F2 = 2,
F4 = F2 + F3 = 3,
F5 = F3 + F4 = 8, … .
Jika diperhatikan, bahwa suku ke-n merupakan penjumlahan dua suku
sebelumnya untuk n >=2. Jadi barisan ini didefinisikan
secara recursif sebagai berikut.
Penting :
Untuk langkah pembuktian induksi langkah kedua
gunakan aturan ini :
Kamis, 03 November 2016
Rabu, 02 November 2016
Langganan:
Komentar (Atom)

