.

TERIMA KASIH BANYAK SAHABAT SUDAH BERKUNJUNG KE SINI ........ DINANTI HADIRNYA KEMBALI DI SINI UNTUK MENENGOK KONTEN BARU YA ...

Rabu, 22 April 2026

MONUMEN KELAHIRAN PANGLIMA BESAR JENDERAL SOEDIRMAN DI KABUPATEN PURBALINGGA

 Pernahkah sobat melihat gambar tokoh di mata uang bawah ini?


Mata uang kuno - koleksi pribadi 

(ya benar, jawabannya adalah tokoh nasional Jenderal Soedirman )

Jenderal Soedirman - dok. Monumen




Patung Jenderal Soedirman dekat Terminal Bis Purbalingga
Sumber gambar : Google Maps

Siapa Tokoh Jenderal Soedirman?

Jenderal Soedirman, seorang tokoh besar dalam sejarah ketentaraan kita, lahir di kabupaten Purbalingga pada 24 Januari 1916. Tepatnya di dukuh Rembang, desa Bantarbarang, kecamatan Rembang, kabupaten Purbalingga.

 Menurut sejarah, beliau menjadi seorang jenderal ketika masih berusia 31 tahun. Ketika pendudukan Jepang, ia masuk tentara Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor yang begitu tamat pendidikan, langsung menjadi Komandan Batalyon di Kroya. Menjadi Panglima Divisi V/Banyumas sesudah TKR terbentuk, dan akhirnya terpilih menjadi Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia (Panglima TNI).

Perjuangan yang beliau lakukan pada saat membela bangsa dan negara dilakukannya dalam kondisi kesehatan yang sangat buruk. Perang gerilya yang dipimpinnya pun dilakukannya dalam usungan tandu. Ini merupakan sebuah preseden yang baik, yang patut diteladani oleh semua unsur di negara ini. Memperjuangkan martabat  bangsa dan negara dilakukannya dengan sepenuh hati, tanpa mengharapkan pamrih.

Tokoh kita yang satu ini juga pernah menjadi guru HIS Muhammadiyah Cilacap, dan memiliki hubungan erat dengan Pramuka melalui kepanduan  Hizbul Wathan (HW)  Muhammadiyah, organisasi otonomi kepanduan Islam yang membentuk karakter, kedisiplinan, dan jiwa kepemimpinan beliau sejak muda. Beliau ditempa dalam kepanduan sebelum menjadi panglima besar, menjadikannya teladan utama nilai-nilai kepramukaan.

                                                                                              

Perjalanan Menuju Monumen Kelahiran Jenderal Soedirman di Purbalingga

Monumen kelahiran Jenderal Soedirman yang akan kami tuju berada di desa Bantarbarang, kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah.

Untuk membayangkan lokasi, bisa dilacak dengan google maps dengan klik “Purbalingga Jateng” atau langsung klik “Monumen Tempat Lahir Pangsar Soedirman”.

 


Sumber peta : Google Maps

Perjalanan menuju monumen kelahiran Jenderal Soedirman ( nama dengan ejaan lama. Pen ) lumayan jauh jika dimulai dari kota Purbalingga. Ada dua jalur yang dapat ditempuh untuk sampai ke sana. Jalur pertama melewati kota kecamatan Bobotsari, belok ke arah timur melewati dua kecamatan yakni kecamatan Karanganyar dan kecamatan Karangmoncol. Setelah ini, barulah masuk ke kecamatan Rembang.

Sementara jalur kedua melewati jalur Purbalingga – Pengadegan, mengambil start pertama di sekitar kodim Purbalingga Bancar, meleintasi jembatan kali Klawing kemudian menuju ke Rembang.

Penulis sendiri belum pernah menempuh jalur kedua, sebab menurut mereka yang pernah melewati jalur ini sangat berat. Jalan kampung yang kecil naik turun perbukitan, walaupun sebenarnya jalur ini cukup ramai sebab merupakan jalur yang dilewati oleh mobil angkutan umum mikrobus.

Jalur pertama melewati Bobotsari boleh dikatan lebih dari sepuluh kali melewati jalur tersebut. Pertama ketika awal-wal monumen kelahiran Jenderal Soedirman dibuka, di tahun 1978 penulis pernah melakukan hiking dari sekolah penulis, SMP Negeri Bobotsari ke Bantarbarang, dengan jarak sekitar 30 kilometer. 

Bentang alam yang terlewati berupa persawahan, hutan, perbukitan, perumahan penduduk, kali (misalnya kali Klawing, kali Laban, kali Tuntunggunung, kali Karang). Jalan yang naik turun cukup sempit untuk dilalui dua mobil yang berpapasan.

Monumen cukup menarik untuk dikunjungi, sebagai destinasi wisata sejarah. Apalagi jika sobat sedang berada atau mampir di kabupaten Purbalingga, maka jangan lewatkan lokasi ini, jangan dilewatkan, sebab belum tentu di lain waktu sobat akan megunjungi Purbalingga lagi. 

GALERI :


Dari Gerbang Utara  Arah Masuk ke Monumen - dok. Pribadi



Nomen Klatur Lembaga - dok. pribadi


Rumah Duplikat Tempat Lahir Soedirman - dok. Pribadi


Mengisi Buku Tamu - dok. Pribadi


Sebagian Pengunjung - dok. Pribadi


Barang Peninggalan di Rumah Duplikat (1) - dok. Pribadi

Barang Peninggalan di Rumah Duplikat (2) - dok. Pribadi

Barang Peninggalan di Rumah Duplikat (3) - dok. Pribadi

Barang Peninggalan di Rumah Duplikat (4) - dok. Pribadi


Barang Peninggalan di Rumah Duplikat (5) - dok. Pribadi

Kata-kata Hikmah Jenderal Soedirman (1)  - dok. Pribadi

Kata-kata Hikmah Jenderal Soedirman (2)  - dok. Pribadi

Data Pembangunan Awal - dok. Pribadi

Diorama ( 1) Tokoh hebat itu lahir di sini - dok. Pribadi


Diorama (2) Perjuangan Pak Dirman Gerilya dengan Ditandu  - dok. Pribadi


Diorama ( 3 ) - dok. Pribadi

Diorama ( 4 ) - dok. Pribadi


Diorama ( 5 ) - dok. Pribadi


Diorama ( 6 ) Jiwa Pramuka ada di Beliau - dok. Pribadi





Patung Jenderal Soedirman dengan kostum Pramuka  - dok. Pribadi



Prasasti Peresmian Patung Pramuka oleh Presdien Soeharto - dok. Pribadi


Masjid Kompleks Monumen - dok. Pribadi 

Selamat berkunjung 

ke Monumen Kelahiran Jenderal Soedirman ! 

***










 






Rabu, 08 April 2026

Humor : DIALOG ORANG CERDAS 4-6

Dialog Orang Cerdas 4 :

DIPUTUS PACAR MASIH ADA HARAPAN

         Suatu hari ada seorang pemuda usia SMA sedang ngegombal ke pacarnya,

Pemuda               : Alangkah indahnya dunia ini jika kita selalu berdua

Pemudi                : So sweeeeet …….

Di lain hari, pemuda itu menggombal lagi,

Pemuda               : Jika aku kuliah nanti, walaupun jauhan, aku harap kita tetap bersatu.

Pemudi                : What? Gimana si Mas ini? Maunya berdua apa bersatu sih?

                                Dulu bilang berdua, sekarang bilang bersatu!

Pemuda               : Emmmm…. maksudnya gini ….mmm…. ohh… gimana ya?

Pemudi                : Ternyata payah, cowok nggak bisa bedain dua dengan satu ….

Pemuda               : Tapi …. mmmm iya, memangnya dua beda dengan satu ya?

Pemudi                : Ya iyalah dari jaman nenek moyang juga, dua beda dengan satu!

Pemuda               : Terus bagaimana ini?

Pemudi                : Kita putus, nggak mau aku punya cowok payah nggak paham matematika!

Pemuda               : Putus? Terus hubungan kita?

Pemudi                : Masih bisa nyambung lagi …..

Pemuda               : Bener nih? Ada syaratnya nggak? Belajar matematika lagi?

Pemudi                : Bukan! Kita masih bisa nyambung lagi, nanti nunggu saat terapungnya batu hitam dan tenggelamnya gabus!

Pemuda               : Alhamdulillaaah ….. masih ada harapan!

 

[ Si pemudi langsung pergi, apalagi setelah ungkapan rasa syukur yang terakhir tadi. Makanya bagi yang masih suka ngegombal, hati-hati menggunakan kata bersatu dan berdua ].

 

 ================================================================

Dialog Orang Cerdas 5

ALIRAN SESAT 1

 Aman    : Min, di sekolah kita ternyata ada aliran sesat!

Amin     : Ngaco kamu ah! Hati-hati kalau ngomong. Memang sesat gimana sih?

Aman    : Masa ya, ini ada anak-anak adzan kok masih bersepatu!

Amin     : Kamu itu yang pikirannya sesat! Itu mah lagi pelajaran PAI, praktik adzan di kelas!

Aman    : Oh?

 =================================================================

Dialog Orang Cerdas 6

ALIRAN SESAT 2

Jaman   : Min, sudah tahu belum, ternyata Jamingan itu menganut aliran sesat!

Jamin    : Mingan? Masa sih? Memangnya bagaimana amalannya?

Jaman   : Coba bayangkan, masa sih, Jamingan sholat menghadap ke selatan!

Jamin    : Huuuuh …. kirain apa, ini mah kamu yang aliran sesat.

Jaman   : Kok aku?

Jamin    : Ya pastilah Jamingan sholat menghadap ke selatan , kan kita sekarang  sedang 

                piknik di Ankara. Kiblatnya ye tentu ada di sebelah  selatan Turki , ya sekarang 

                kita ini.

Jaman   : Astaghfirulaaah ….. kirain kita masih di Indonesia!

Jamin    : Kamu sih kurang piknik …..hahaha!


08-04-2026

974

Senin, 06 April 2026

Humor : DIALOG ORANG CERDAS 1-3

 Dialog Orang Cerdas 1 :

TIDAK ULANGAN ?

Usai berdoa bersama, guru bertanya ke para siswa,

Guru      : Anak-anak, hari ini tidak ulangan?

Siswa     : Tidaaaaak!

Guru      : Sip lah! Kalau begitu siapkan kertas.

Siswa     : Siaaaap!

[ Bagi sebagian pembaca, mungkin merasa agak heran, katanya tidak ulangan, tetapi ketika disuruh menyiapkan kertas malah menjawab “Siaaaap!” . Ya iyalah, guru mengatakan TIDAK ULANGAN , siswa men-TIDAK-kan,  jadi   TIDAK (TIDAK ULANGAN ) = ULANGAN ]. "Tidak Ulangan di-tidak-kan, jadi ya Ulangan "

 ================================================


Dialog Orang Cerdas 2 :

PERINTAH MENGELILINGI SAYA

       Ketua Regu berkata kepada anak buahnya sambal berteriak :

Ketua Regu         : Ayo membentuk lingkaran mengelilingi saya! Semua di sebelah selatan saya!

Anak Buah          : Siaaaaaap!

Ketua Regu         : Kita tidak sedang mimpi kan? Mengelilingi saya tetapi semua di sebelah selatan saya?

Anak Buah           : Tidaaaaak!

[ Ini adalah dialog anggota pecinta alam, yang Ketua-nya berdiri tepat di pusat kutub utara. Maka setiap orang selain dia, berada di sebelah selatan-nya ]

 


================================================

Dialog Orang Cerdas 3 :

NGGAK PUNYA WAKTU

Pas waktu istirahat tiba, si A mengajak si B jajan ke kantin,

Si A         : Ayo kita ke kantin!

Si B         : Nggak ah, aku nggak punya waktu.

Si A         : Aku yang mbayarin kok!

Si B         : Wah? Kalau begitu baiklah, ayo!


[ Si B menerapkan pepatah Bahasa Inggris yang populer, untuk mengatakan “Tidak punya uang”, ia merasa sedikit malu, maka ia memilih kalimat “Tidak punya waktu” ]

06-04-2026
934

 

Minggu, 05 April 2026

Fiksi Mini : BATAL JADI TKW ARAB

       Pacaran sudah hampir setahun, niat memiliki Lastri menjadi istri sudah bulat. Namun faktanya, Ahmad sering mengeluh. Pemuda itu belum memiliki kerja yang mapan. Saat ini paling menunggu kalau ada orang yang minta bantuan ini itu dengan upah ala kadarnya. Upah sedapatnya. Jika habis, ia masih numpang, minta ke orang tuanya. Lamaran kerja sudah banyak yang dikirim, tapi tak ada yang nyangkut. Termasuk yang Job Fair bulan lalu, ada keinginan, akan tetapi ia pilih pasrah menyerah tak ikut bersaing.

   Sudah sekitar dua minggu terakhir ini ada hal yang lebih membuat dirinya pusing. Lastri, dengan mata sembab datang kepada dirinya seperti memendam beban berat.

“Jadi Akang sampai hari ini belum memutuskan untuk meminang Lastri Kang?”

“Ya Allaaah! Lastri …… kita nanti harus melengkapi rumah tangga kita bagaimana? Akang belum kerja. Akang masih ikhtiar.”

“Kalau begitu Lastri yang akan kerja. Kebetulan ada lowongan.”

“Kerja? Kerja apa? Di mana?”

“Lastri mau jadi TKW di Arab.”

Ilustrasi AI dengan subnp.com

“Lastri? Lastriiii? Jangan Lastri, Arab jauh Lastri ….. jangan Lastriku…. Lastri ….”

“Sudahlah Kang, jadi TKW hanya 2 tahun. Doakan saja untuk kebaikan kita nanti kalau Akang jadi melamarku…”

“Jangan Lastri, aku khawatir. Aku khawatir kamu kenapa-kenapa. Batalkan niat ke Arab ya Lastri.”

“Akang terlambat melarang. Aku sudah ajukan lamaran jadi TKW. Atau…. atau?”

“Atau apa Lastri?”

“Lamar aku besok.”

Desss!!! 

Serasa ada benda keras dirasakan menerpa kepala pemuda itu. Ahmad menyeringai. Tangan pemuda itu  mencengkeram rambutnya erat-erat hingga lama. Kepalanya tertunduk. Isi kepalanya melayang. Gelap, kacau, berantakan, entah suasana apalagi yang ada di sana. Ia pun sama sekali tak melihat Lastri yang mengatupkan bibir, kemudian menggeleng. Perlahan gadis itu beranjak meninggalkan dirinya, Ahmad pun tidak tahu.

Sejak pertemuan itu, Ahmad semakin dekat dengan Tuhan. Semakin banyak berdoa, semakin rajin ke mushola di RT-nya. Padahal biasanya ia hanya kadang-kadang menyambangi tempat ibadah itu. Ia selalu minta keberanian untuk melamar Lastri, namun keberanian yang didoakannya itu belum kunjung muncul.

Kini doa yang lain ia panjatkan lebih intens. Puluhan, bahkan ratusan dalam sehari doa ini ia panjatkan:

“Ya Allah ….. gagalkan Lastri jadi TKW di Arab. Gagalkan ya Allah, ya Allaaah….”

Selang dua minggu ada WA dari Lastri agar ia datang di rumahnya. Sepanjang jalan menuju rumah kekasihnya ia melantunkan doa ya sama.

Setelah lama diam berhadapan, kini Lastri bicara.

“Kang Ahmad …. tadi siang ada pengumuman penerimaan TKW Arab….”

Jantung Ahmad serasa berhenti berdetak. Kerongkongannyaa terasa serak. Ya Allah ….kabulkanlah doaku, semoga Lastri gagal ke Arab.

“Terus… terus bagaimana hasilnya?”

“Aku gagal Kang, gagal berangkat ke Arab jadi TKW.”

“Yessssss….. yesssssss…. alhamdulillaaaah ya Allah ya Rabb! ”

Lastri hanya menunduk melihat Ahamd yang histeris, kemudian menelungkupkan wajahnya di meja hingga lama.

“Doaku terkabul Lastri …. Lastrikuu…… Allah kabulkan doaku agar kamu gagal menjadi TKW di Arab. Oh, alhamdulillaaaahh …..”

“Tapi lamaranku yang lain diterima Kang.”

“Apa maksudnya?”

“Aku diterima menjadi TKW di Malaysia, besok aku berangkat …..”

Ahmad melotot, kemudian pandangannya terasa gelap. Kedua orang tua Lastri sibuk menolong Ahmad yang pingsan berdebum di lantai. ***

 05-04-2026

893

Sabtu, 04 April 2026

Fiksi Mini : ISTRI KORUPTOR

            Hari Minggu pagi Pak Narko berniat terus terang atas apa yang ia pendam selama ini.

Ya, uang yang ia dapatkan selama ini sebagai pegawai dengan posisi strategis untuk urusan laporan pengadministrasian segala hal. Ia tak mengatakan uang itu rizki, sebab ia sadar, itu uang dari hasil nakal, tetapi nakalnya orang tua. Jika menyebut rizki, berarti ini membawa-bawa nama Tuhan dalam kenakalannya. Ia ingin alamiah saja, mengalir seperti apa yang ia inginkan.

“Mah ..... hari ini aku dapat uang banyak.” Kata Pak Narko seraya memperhatikan wajah istrinya melihat bagaimana reaksi perubahan roman mukanya.

“Oh ya .... biasanya juga banyak.” Kata istrinya datar-datar saja.

“Mau nggak?”

“Ya mau laah ..... mana?” Tanya istrinya seraya menyorongkan telapak tangan yang ditengadahkan.

Dengan tersenyum Pak Narko menyodorkan gepokan uang ke tangan istrinya. Namun seperti biasanya, ia hampir tak pernah mendapatkan aplaus yang berlebihan. Misalnya memekik, atau mengepalkan tangan, memeluk, atau berjingkrak-jingkrak, ia tak pernah melihat itu.

Ilustrasi AI dari subnp.com


“Kok nggak gembira?”

“Yaaaah Papah mah, kan uangku sudah banyak, lima ratus juta lebih. Terus nggak tahu juga yang disimpan Papah, di rekening A, rekening B atau mungkin dititipkan di rekening atas nama X, Y atau Z. Jadi buat apa Mamah harus berjingkrak-jingkrak?”

“Mamah menduga aku punya rekening rahasia? Punya rekening untuk cuci uang?”

“Nggak menduga. Terserah Papah saja.”

“Kalau hari ini Papah mau berterus terang, Mamah mau nggak?”

“Memangnya selama ini Papah nggak berterus terang sama Mamah?”

“Emmm....... iya sih ..... “ kata Pak Narko perlahan.

“Oh ya syukur, Papah ternyata orangnya jujur, mau mengakui bahwa selama ini ada yang dirahasiakan.”

“Maaah....”

“Apa?”

“Sebenarnya uang yang Papah miliki itu banyak sekali yang hasil korupsi, atau gratifikasi.”

“Ooooo .... gitu ....” Kata istrinya datar.

“Kok nggak kaget?”

“Ya kenapa harus kaget?”

“Kan Mamah ikut menikmati hasil korupsi ini.”

“Memang kalau ikut menikmati kenapa?”

“Kan malu atau bagaimana gitu ......”

“Kenapa harus malu? Kan istri itu diberi nafkah oleh suaminya ya diterima kan? Kan saya dari dulu waktu terima lamaran Papah, aku yakin Papah itu orang yang baik.”

“Kalau korupsi Papah terbongkar bagaimana?”

“Ya itu kan urusan Papah ..... “

“Kan Mamah ikut menikmati!”

“Memang waktu Papah ngasih uang ke Mamah itu hal yang salah, itu perkara korupsi? Enggak kan?”

“Jadi bagaimana ini? Mamah ikut berdosa lho!”

“Istri dikasih nafkah suami, dikasih uang oleh suami itu halal Pah! Kalau Papah mau dosa ya silakan tanggung sendiri, jangan bawa-bawa istri.”

“Kan Mamah kan nggak pernah mengingatkan kalau itu dosa.”

“Lah papah sendiri sudah tahu dosa ...... Tahu korupsi itu dosa kan?”

“Tahu.”

“Ya sudah .... pikir sendiri ... urusan dosa jangan bawa nama istri dan anak-anak!”

Hari itu bagi pak Narko tak habis pikir ada orang yang pikirannya semacam istrinya. Tetapi ia juga tak habis pikir mengapa ia menjadi seperti sekarang ini, tahu korupsi itu dosa tetapi masih memilih korupsi. ***

 04-04-2026

878

 



 

Senin, 02 Februari 2026

Cerpen jadul : BAYANGAN DI PELAMINAN

 

                                                           Ilustrasi AI dari subnp.com

Matahari telah sepenggalah. Rasman meraba ban sepeda. Kenyal. Ia puas. Sejurus kemudian lelaki-laki separuh baya itu menepuk-nepukkan kedua belah telapak tangannya untuk membersihkan debu. Sepeda dengan bagian belakang penuh barang dagangan mainan anak-anak telah siap.

“Akang tidak hadir di acara Pak Kandar?” tanya Mustirah, istrinya, seraya bersandar di kusen pintu.

“Aku sudah ijin ke Pak Kandar. Tadi malam kan sudah ikut lek-lekan di rumah beliau.”

“Lalu apa katanya?”

“Nggak apa-apa kata Pak Kandar. Jualan mainan anak-anak di balandongan hajatan banyak laku. Hari ini ada tiga tempat yang mengadakan hajatan. Sayang kalau aku lewatkan begitu saja.”

“Kalau begitu terserah Akang. Biar aku yang hadir di sana nonton kawinan si Inayah.”

“Tadinya aku ingin jualan di Pak Kandar, tapi malu.”

“Iya, iyaa….. sudah berangkat sana. Mudah-mudahan dapat rizki banyak.”

“Amin.”

“Itu kopinya dihabiskan. Nasinya juga….”

“Iya. Terimakasih …” kata Rasman pelan. Tak ada kata terucap lagi dari bibir Tirah.

Pagi menjelang siang Tirah mengantar suaminya berangkat mengais rizki. Dipandangi suaminya hingga hilang di pengkolan gang kecil. Setelah itu perempuan yang biasa menjadi tukang cuci di rumah Bu Lurah bersiap-siap mengganti pakaian dengan yang lebih bagus. Hari itu memang ia dapat ijin dari Bu Lurah untuk tidak mencuci, sebab rumah Pak Kandar hanya berselang empat rumah, malu kalau tak ada yang ikut meramaikan hajatan.

Halaman Pak Kandar telah ramai. Persiapan penyambutan pengantin laki-laki telah dilakukan sejak dua hari lalu. Panggung pelaminan telah terpasang megah. Kursi-kursi telah rapi berderat. Tempat prasmanan telah siap dengan hidangan yang bermacam-macam. Di pinggir jajaran kursi telah siap pula panggung hiburan organ plus.

Tak berapa lama sesuai jadwal perhitungan mantu, rombongan pengantin pria datang. Kegiatan  penyambutan berlangsung. Adat daerah dengan segala keunikan dengan kearifan lokal disajikan, dengan salah satu tujuan pula untuk tetep melestarikan budaya daerah. Tentu, bagi calon pengantin, dan dua keluarga yang akan bersatu, acara ini menjadi sebuah momen sacral sekaligus meriah yang tak akan dapat dilupakan.

Kini Tirah telah berada di kerumunan ratusan orang, baik rombongan tamu pengantar maupun penyambut maupun penggembira dari kampung sendiri. Tirah melihat di gang masuk lingkungan hajatan banyak orang berjualan. Perempuan itu mendesah. Ia ingat Rasman suaminya. Ia berdoa semoga dagangan suaminya laris seperti dagangan pedagang di lingkungan Pak Kandar. Sebagian focus ke acara. Sebagian lain ada kegiatan sendiri. Tak ketinggalan pula suasana yang penuh keceriaan itu ditimpa suara anak-anak kecil yang meminta mainan. Sebagian ibu-ibu menuruti permintaan anak-anaknya, sebagoan lagi bersungut-sungut sambil mengendong anaknya menjauh dari penjual mainan. Bahkan ada yang mencubit paha anaknya agar diam.

“Penjual sialan! Bikin anak kecil ribut saja …. Memangnya semua orang punya uang apa?!” keluh ibu-ibu yang menggendong anaknya beringsut mundur dari jajaran depan. Kini berdiri berdampingan dengan Tirah.

“Biasa anak kecil bu …. “ Tirah reflek menimpali keluhan ibu-ibu.

“Iya sih, tapi ya itu, bikin anak ribut. Lah namanya anak-anak kadang-kadang tak bisa mengerti kesulitan orang tua.”

“Iya …iya …..”

Tirah manggut-manggut sambil menjauh dari ibu tadi. Hatinya merasa tersindir. Andai ibu tahu jika suamainya sedang berjualan mainan yang sama di tempat lain. Tapi ia tak memperpanjang perasaannya. Perempuan setengah baya itu mundur hingga berdiri di jajaran yang paling belakang.

Dari tempat itulah Mustirah menonton seluruh acara mulai dari acara penambutan, serah terima calom pengantin, akad nikah hingga acara kedua pengantin yang telah resmi menjadi. Musik khas daerah degung yang mengiringi setiap prosesi pernikahan putri Pak Kandar benar-benar membawa suasana yang sakral. Semua hadirin tampak seperti terhipnotis.

Tirah menelan ludah. Dadanya terenyuh. Bibirnya terkatub. Tak terasa, kelopak matanya panas. Desakan air mata yang mengembang tak dapat ditahan. Kerongkongannya sesak. Perlahan perempuan itu mengusap air matanya dengan punggung tangannya. Tirah berusaha bertahan menahan isaknya. Berat. Akhirnya merasa tidak mampu menahan isaknya, ia diam-diam menyelinap dengan menunduk berjalan cepat meninggalkan halaman rumah Pak Kandar.

Sampai di rumah Tirah masuk kamar. Desakan tangis yang menggelegak akhirnya tumpah. Ia menangis tersedu-sedu. Air matanya tumpah membasahi bantal kusam. Hingga hampir lima menit ia menangis dalam kesendirian. Namun sayup-sayup suara music degung dari halaman rumah Pak Kandar masih sangat jelas terdengar.

“Ya Allaaaah …… mengapa aku tak pernah mengalami masa-masa seindah anak Pak Kandar? Mengapa aku sebagai permpuan tak pernah merasakan indahnya menikah, semarak dan megahnya menikah. Aku menikah di kesunyian ya Allaaaah….. hanya ada akad wali dan saksi, serta mas kawin yang tak seberapa. Hanya disaksikan oleh tetangga kanan kiri… ya Allaaaaah …… mengapaaaaaa………??????!!” tanpa sadar perempuan itu berteriak kemudian  mencengkeram bantal hingga membanting-bantingnya.

MONUMEN KELAHIRAN PANGLIMA BESAR JENDERAL SOEDIRMAN DI KABUPATEN PURBALINGGA

  Pernahkah sobat melihat gambar tokoh di mata uang bawah ini? Mata uang kuno - koleksi pribadi  (ya benar, jawabannya adalah tokoh nasional...