Pacaran
sudah hampir setahun, niat memiliki Lastri menjadi istri sudah bulat. Namun
faktanya, Ahmad sering mengeluh. Pemuda itu belum memiliki kerja yang mapan.
Saat ini paling nunggu kalau ada orang yang minta bantuan ini itu dengan upah
ala kadarnya. Upah sedapatnya. Jika habis, ia masih numpang orang tuanya.
Lamaran kerja sudah banyak yang dikirim, tapi tak ada yang nyangkut. Termasuk
yang Job Fair bulan lalu, ada keinginan, akan tetapi ia pilih pasrah menyerah
tak ikut bersaing.
Sudah
sekitar dua minggu terakhir ini ada yang lebih membuat pusing dirinya. Lastri,
dengan mata sembab datang kepada dirinya seperti memendam beban berat.
“Jadi
Akang sampai hari belum memutuskan untuk meminang Lastri Kang?”
“Ya
Allaaah! Lastri …… kita nanti harus melengkapi rumah tangga kita bagaimana?
Akang belum kerja. Akang masih ikhtiar.”
“Kalau
begitu Lastri yang akan kerja. Kebetulan ada lowongan.”
“Kerja?
Kerja apa? Di mana?”
“Lastri
mau jadi TKW di Arab.”
“Lastri?
Lastriiii? Jangan Lastri, Arab jauh Lastri ….. jangan Lastriku…. Lastri ….”
“Sudahlah
Kang, jadi TKW hanya 2 tahun. Doakan saja untuk kebaikan kita nanti kalau Akang
jadi melamarku…”
“Jangan
Lastri, aku khawatir. Kau cantik Lastriiii ….. aku khawatir kamu kenapa-kenapa.
Batalkan niat ke Arab ya Lastri.”
“Akang
terlambat melarang. Aku sudah ajukan lamaran jadi TKW. Atau…. atau?”
“Atau
apa Lastri?”
“Lamar
aku besok.”
Desss!!!
Serasa ada benda keras menerpa kepalanya.
Ahmad
menyeringai. Tangan pemuda itu
mencengkeram rambutnya erat-erat hingga lama. Kepalanya tertunduk. Isi
kepalanya melayang. Gelap, kacau, berantakan, entah suasana apalagi yang ada di
sana. Ia pun sama sekali tak melihat Lastri yang mengatupkan bibir, kemudian
menggeleng. Perlahan gadis itu beranjak meninggalkan dirinya, Ahmad pun tidak
tahu.
Sejak
pertemuan itu, Ahmad semakin dekat dengan Tuhan. Semakin banyak berdoa, semakin
rajin ke mushola di RT-nya. Padahal biasanya ia hanya kadang-kadang menyambangi
tempat ibadah itu. Ia selalu minta keberanian untuk melamar Lastri, namun
keberanian itu tak kunjung muncul.
Kini
doa yang lain ia panjatkan lebih intens. Puluhan, bahkan ratusan dalam sehari
doa ini ia panjatkan:
“Ya
Allah ….. gagalkan Lastri jadi TKW di Arab. Gagalkan ya Allah, ya Allaaah….”
Selang
dua minggu ada WA dari Lastri agar ia datang di rumahnya. Sepanjang jalan
menuju rumah kekasihnya ia melantunkan doa ya sama.
Setelah
lama diam berhadapan, kini Lastri bicara.
“Kang
Ahmad …. tadi siang ada pengumuman penerimaan TKW Arab….”
Jantung
Ahmad serasa berhenti berdetak. Kerongkongannyaa terasa serak. Ya Allah
….kabulkanlah doaku, semoga Lastri gagal ke Arab.
“Terus…
terus bagaimana hasilnya?”
“Aku
gagal Kang, gagal berangkat ke Arab jadi TKW.”
“Yessssss…..
yesssssss…. alhamdulillaaaah ya Allah ya Rabb! ”
Lastri
hanya menunduk melihat Ahamd yang histeris, kemudian menelungkupkan wajahnya di
meja hingga lama.
“Doaku
terkabul Lastri …. Lastrikuu…… Allah kabulkan doaku agar kamu gagal menjadi TKW
di Arab. Oh, alhamdulillaaaahh …..”
“Tapi
lamaranku yang lain diterima Kang.”
“Apa
maksudnya?”
“Aku
diterima menjadi TKW di Malaysia, besok aku berangkat …..”
Ahmad
melotot, kemudian pandangannya terasa gelap. Kedua orang tua Lastri sibuk
menolong Ahmad yang pingsan berdebum di lantai. ***




























.jpeg)

