Foto Dok. Pribadi
Sampai
saat ini pembahasan tentang larangan sekolah menyelenggarakan Study Tour masih
ramai diperbincangkan. Memang ada beberapa daerah / provinsi yang memutuskan
untuk melarang kegiatan. Alasan utama pelarangan umumnya adalah “biaya
memberatkan orang tua siswa”. Alasan lain, katanya Study Tour itu lebih banyak
“Tournya”.
Setiap masa ada orangnya
Terlepas dari sudut pandang yang mana,
yang jelas mari kita ingat ada pameo yang menyatakan bahwa “Setiap masa itu ada
orangnya dan setiap orang itu ada masanya”. Ini sebuah kondisi alamiah yang
selayaknya kita terima dengan lapang dada. Sebagai contoh di jaman dulu, di
masa tertentu, jaman presiden Pak Soeharto ada tokoh viral “Petrus, si Penembak
Misterius” yang memberikan efek positif dan efek jera bagi yang terkait dengan
keberadaan Petrus ini. Di masa tertentu yang lain, ada SBY selaku presiden RI
di tahun 2007 telah mengganti penggunaan minyak tanah ke bahan bakar gas. Di
awal-awal terasa aneh, akan tetapi kita rasakan bersama saat ini, kita bisa
nyaman tanpa minyak tanah. Bahkan mungkin sudah lupa sama sekali dengan minyak
tanah.
Masa saat ini, ya, hari ini, adalah
masa-masa di mana para pemimpin daerah (baik yang lama maupun yang baru)
memulai actionnya
bersama presiden baru kita. Kewenangan apapun yang bertujuan untuk
mensejahterakan rakyat, dan keputusan / tindakan apapun itu adalah kewenangan
miliknya. Sebagai unsur rakyat, ya tentu sumonggo
kerso bagaimana kewenangan itu diimplementasikan dalam masa kerjanya.
Bagi yang beragama Islam tentu berpegang kepada dalil “Taatilah Allah, Rosul
dan Ulil Amri”. Sebagian tafsir tentang ulil amri adalah pemerintah, atau
pemimpin. Jika dipersempit, maka bisa diartikan sebagai yang berkuasa / diberi
kuasa di wilayah-wilayah.
Taruhlah kita menggunakan pendekatan
pemahaman bahwa yang memberikan larangan study tour adalah ulil amri, ya tentu
kita tinggal ikuti saja. Sebagai masyarakat awam, kita hampir tak punya
kontribusi untuk mendebat yang seperti ini. Jadi? Biarkan semua kebijakan itu
berjalan, tinggal kita sikapi saja sesuai posisi kita. Ya, masa ini ada
orangnya, yakni pembuat kebijakan itu!
Study Tour dilarang tapi tetep pengen ke
Yogya
Ada sebuah dialog imajiner dua orang
alumni SMA di Jawa Barat .
“Beeuuuh …. indahnya masa SMA dulu,
masa-masa study tour ke Yogya dulu ya!”
“Bener, ada bahan cerita untuk anak cucu.”
“Yogya ngangenin. Aneh ya? Ada kekuatan
apa, cuma sekali ke Yogya tapi kenangannya nggak terlupakan.”
“Yang masih ingat apa saja?”
“Tentu saja ikon Yogya, Malioboro! Terus
ada ... mmm.... ada taman pintar, mborong bakpia, kilometer nol, makan iwak
kali di utara Keraton …. dan makan gudeg. Semuanya unforgettable!”
“Lho? Bukannya di Jabar ini juga ada
gudeg?”
“Bedaaaa….. makan gudeg di Yogya itu ada
bonus rasa merakyatnya bahagia hahahaa!”
Mereka yang ngobrol tak sadar bahwa sedari
tadi ada adiknya yang nguping pembicaraan, yang sekarang kelas X SMA, ikut
mendengarkan perbincangan kakanya. Hatinya terpengaruh. Biasanya di sekolahnya
study tour itu kelas XI. Dia ingat bahwa sekarang study tour dilarang. Berarti
nanti kelas XI nggak ada lagi. Nggak ada Bromo, nggak ada Batu-Malang, nggak
ada Bali. Dan yang paling menyesakkan ya tadi itu, nggak ada Yogyakarta dalam
perjalanan sejarah sekolahnya. Masak sih, selama sekolah hanya ada cerita
tentang bangku sekolah, upacara, ulangan harian, kantin sekolah, teman
berseragam dan guru-gurunya saja? Nggak ada seru-seruan bersama
teman-teman di bus study tour. Memang ada study, mengunjungi universitas mana
gitu, tapi secara alamiah yang terkenang lama bagi anak-anak sekolah itu memang tour
setelah study-nya itu.
Ini alternatif cara ke Yogyakarta bagi
siswa
Jika ada siswa yang memang terobsesi
banget pengen ke Yogya, maka ada cara-caranya. Bagaimana caranya? Gampang!
Siapkan niat agar bisa berkuliah di Yogyakarta. Siapkan semua usaha untuk
mendukung niat bisa kuliah di Yogya. Jika lulus jalur SNBP syukur, jika tidak,
maka bisa persiapkan lebih ekstra untuk test dengan SNBT. Atau jalur ujian
mandiri? Bebaslah. Apalagi jika mau yang ke PTS, silakan saja.
Ketika nanti bisa tercapai cita-cita
kuliah di sono, kalian bisa menikmati Yogyakarta sepuasnya, mungkin tiga tahun,
empat tahun. Atau mau lanjut S2 jadi enam tahun di Yogya? Dijamin Yogyakarta
bener-bener akan jadi milikmu, walaupun study tour dilarang, Yogyakarta tetap
jadi bagian hidupmu. Pulang ke daerah asal, bisa cerita banyak tentang
Yogyakarta dengan seluruh pesona dan kenangannya.
Pilihan PTN dan PTS
Lengkap banget pilihan PT di Yogyakarta.
Yang negeri tentu ada UGM dan UNY. Untuk yang Perguruan Tinggi Keagamaan Islam
Negeri (PTKIN), ada UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang di Sleman itu. Apalagi
UIN Sunan Kalijaga ini baru saja dipublikasikan menjadi UIN terbaik
di Indonesia (di sesama UIN versi Edurank baca di : https://edurank.org/geo/id/ ).
Juga Institut
Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.
Untuk yang PTS tentu ada Universitas Islam
Indonesia (UII) Yogyakarta, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY),
Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) dan lainnya masih banyak.
OK! Itulah salah satu alternatif yang
baik jika kalian dilarang study tour ke luar daerah (dari luar DIY). Yogya yang
ngangenin akan menjadi bagian hidupmu jika diniatkan dari sekarang. Mau yang lebih ekstrim lagi? Siapa tahu
selain kuliah di sono, kalian malah berjodoh dengan orang Yogya ! ***
Majalengka, 12 Maret 2025
Naskah ini pernah dikirim ke Mojok.co, tapi nggak dimuat-muat = 1709 =