Materi penarikan kesimpulan berkaitan dengan uji hipotesis, sifatnya hanya
pengenalan dasar. Persyaratan normalitas data yang dikenakan pada data yang
diuji telah dibahas pada topik distribusi normal. Akan tetapi tidak sampai pada
uji normalitas menggunakan metode tertentu.
Kondisi kenormalan data pada populasi dikenalkan melalui grafik fungsi densitas
peluang, untuk melihat grafik yang diperoleh. Tentang data riil berdistribusi
normal dapat dilihat melalui link https://www.youtube.com/watch?v=5fyojHO1JZc atau juga khusus untuk melihat
data dengan fungsi densitas peluang pada link https://www.youtube.com/watch?v=2AGQEZ02dTE.
HIPOTESIS
Penarikan kesimpulan yang dipelajari
di SMA untuk memberikan gambaran pada saat di pendidikan tinggi berhubungan
langsung dengan kegiatan penelitian ilmiah dengan bantuan statistika.
Penelitian yang dilakukan umumnya untuk melakukan sebuah prediksi hasil
tertentu dari sesuatu yang dirancang dan akan diuji dengan statistika. Prediksi
atau dugaan inilah yang dimaksudkan dengan hipotesis.
Dari arti katanya, hipotesis berasal
dari 2 penggalan kata, “hypo” yang
artinya “di bawah” dan “thesa” yang
artinya kebenaran. Ketika cara penulisannya disesuaikan dengan ejaan Bahasa
Indonesiamenjadi “hipotesa”, dan berkembang menjadi “hipotesis” (Arikunto,
2006).
Contoh hipotesis di dunia pendidikan yang bisa dilakukan oleh peneliti misalnya:
· Metode belajar daring meningkatkan prestasi belajar siswa.
· Pemberian PR yang banyak akan meningkatkan ketahanan belajar.
· Terdapat korelasi positif antara harga HP dengan hasil ujian.
Hipotesis semacam ini sengaja dibuat
oleh peneliti untuk diuji bahwa yang diprediksi adalah benar secara statistik.
Beberapa pengertian hipotesis dari
berbagai sumber:
(1) Hipotesis merupakan suatu proposisi /
pernyataan atau jawaban sementara/ dugaan yang mungkin benar dan digunakan
sebagai pembuatan keputusan / penyelesaian dari suatu masalah penelitian
(Kadir, 2010)
(2) Hipotesis adalah hasilkajian pustaka
atau proses rasional dari proses penelitian yang telah mempunyai kebenaran
teoretik. Kebenaran hipotesis masih harus diuji kebenarannya secara empiric,
dengan demikian hipotesis dapat dianggap sebagai jawaban sementara terhadap
masalah yang telah dirumuskan dalam suatu penelitian dan masih perlu diuji
kebenarannya dengan menggunakan data empirik (Djaali 2003, dalam Kadir, 2010).
(3) Hipotesis diartikan sebagai
kesimpulan bersifat sementara atau proposisi tentative tentang hubungan antara
dua variabel atau lebih (Kerlinger 2002, dalam Kadir, 2010).
(4) Hipotesis adalah pernyataan atau
dugaan tentang karakter suatu populasi yang masih lemah kebenarannya dan perlu
dibuktikan (Noormandiri,2017)
(5) Hipotesis dapat diartikan sebagai
suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai
terbukti melalui data yang terkumpul (Arikunto, 2006).
Uji
hipotesis yang dipilih di materi SMA adalah uji Z. Terkait dengan uji Z ini
maka dikaitkan proses pengambilan kesimpulan dengan kurva normal. Uji ini
melihat posisi pada daerah-daerah mana hasil uji diperoleh,beradadi daerah H0
ataukah berada di daerah H1.
MODEL UJI HIPOTESIS dan KRITERIA
PENGUJIAN
Dengan
asumsi bahwa data populasi berdistribusi normal, sehingga yang dijadikan
patokan sebagai sebuah hasil penarikan kesimpulan terhadap hipotesis adalah
dengan bantuan kurva normal.
Terdata
dua macam model uji hipotesis yang disesuaikan dengan penentuan hipotesis nol,
yakni uji hipotesis satu arah dan uji hipotesis dua arah.
Pada bagian ini
khusus untuk uji mean :
a. a. Uji
hipotesis satu arah (sepihak / one tail)
b. Uji hipotesis dua arah (dua pihak / two tail)
MENENTUKAN SIGNIFIKANSI
Level
atau taraf signifikan yang merupakan besar toleransi penerimaan persentase
kesalahan hasil hipotesis.
Level
siginifikan yang lazim digunakan adalah 1%, 5%, 10%. Persentase ini masih bisa
dimodifikasi sesuai dengan arah atau posisi daerah penolakan H0.
· (1) Jika level signifikan 1% maka derajat kepercayaannya 99%.
· (2) Jika level signifikan 5% maka derajat
kepercayaannya 95%.
· (3) Jika level signifikan 10% maka derajat
kepercayaannya 90%.
TITIK KRITIS
Titik kritis dapat pula disebut nilai kritis pada uji Z dengan bantuan kurva normal merupakan nilai z batas antara
daerah penerimaan H0
dengan daerah penolakan H0 (H1).
a.
aa a. Titik Kritis 1% untuk Uji One Tail (satu pihak) arah kanan
Untuk
uji arah kiri, posisi daerah biru simetris di sebelah kiri nilai z = 0 sehingga
karena luas sama berbeda posisi, tinggal ditambahkan tanda “negatif” padasetiap
nilai kritis uji arah kanan.
Dari
ketiga proses tersebut dapat dilihat bahwa :
Untuk
Uji Two Tail (dua pihak) , maka kita akan membagi menjadi dua bagian:
(1)
Taraf signifikan 1% menjadi 0,5 % kanan dan 0,5 % kiri.
(2)
Taraf signifikan 5% menjadi 2,5 % kanan dan 2,5 % kiri.
(3) Taraf
signifikan 10% menjadi 5% kanan dan 5%
kiri.
Dengan cara yang sama untuk mencari
titik kritis, berikut titik kritis untuk uji dua arah:
MENERAPKAN
TEORI DALAM SOAL
Pustaka
Rujukan:
Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian (Suatu
Pendekatan Praktik), Rineka Cipta, Jakarta, 2006.
Dixon. Wilfrid J, dkk, Pengantar Analisis Statistik,
Gadjah Mada University Press,Yogyakarta,1997
Noormandiri, Matematika (Untuk SMA/MA Kelas XII) – 3
, Erlangga, Jakarta, 2017.
Kadir, Statistika (Untuk Penelitian Ilmu-ilmu Sosial),
Rosemata Sampurna, Jakarta, 2010.