Hari Minggu pagi Pak Narko berniat terus terang atas apa yang ia pendam selama ini.
Ya, uang yang ia dapatkan selama ini
sebagai pegawai dengan posisi strategis untuk urusan laporan pengadministrasian
segala hal. Ia tak mengatakan uang itu rizki, sebab ia sadar, itu uang dari
hasil nakal, tetapi nakalnya orang tua. Jika menyebut rizki, berarti ini
membawa-bawa nama Tuhan dalam kenakalannya. Ia ingin alamiah saja, mengalir
seperti apa yang ia inginkan.
“Mah ..... hari ini aku dapat uang
banyak.” Kata Pak Narko seraya memperhatikan wajah istrinya melihat bagaimana
reaksi perubahan roman mukanya.
“Oh ya .... biasanya juga banyak.”
Kata istrinya datar-datar saja.
“Mau nggak?”
“Ya mau laah ..... mana?” Tanya istrinya
seraya menyorongkan telapak tangan yang ditengadahkan.
Dengan tersenyum Pak Narko
menyodorkan gepokan uang ke tangan istrinya. Namun seperti biasanya, ia hampir
tak pernah mendapatkan aplaus yang berlebihan. Misalnya memekik, atau
mengepalkan tangan, memeluk, atau berjingkrak-jingkrak, ia tak pernah melihat
itu.
“Kok nggak gembira?”
“Yaaaah Papah mah, kan uangku sudah
banyak, lima ratus juta lebih. Terus nggak tahu juga yang disimpan Papah, di
rekening A, rekening B atau mungkin dititipkan di rekening atas nama X, Y atau
Z. Jadi buat apa Mamah harus berjingkrak-jingkrak?”
“Mamah menduga aku punya rekening
rahasia? Punya rekening untuk cuci uang?”
“Nggak menduga. Terserah Papah saja.”
“Kalau hari ini Papah mau berterus
terang, Mamah mau nggak?”
“Memangnya selama ini Papah nggak
berterus terang sama Mamah?”
“Emmm....... iya sih ..... “ kata Pak
Narko perlahan.
“Oh ya syukur, Papah ternyata
orangnya jujur, mau mengakui bahwa selama ini ada yang dirahasiakan.”
“Maaah....”
“Apa?”
“Sebenarnya uang yang Papah miliki
itu banyak sekali yang hasil korupsi, atau gratifikasi.”
“Ooooo .... gitu ....” Kata istrinya
datar.
“Kok nggak kaget?”
“Ya kenapa harus kaget?”
“Kan Mamah ikut menikmati hasil
korupsi ini.”
“Memang kalau ikut menikmati kenapa?”
“Kan malu atau bagaimana gitu ......”
“Kenapa harus malu? Kan istri itu
diberi nafkah oleh suaminya ya diterima kan? Kan saya dari dulu waktu terima
lamaran Papah, aku yakin Papah itu orang yang baik.”
“Kalau korupsi Papah terbongkar
bagaimana?”
“Ya itu kan urusan Papah ..... “
“Kan Mamah ikut menikmati!”
“Memang waktu Papah ngasih uang ke
Mamah itu hal yang salah, itu perkara korupsi? Enggak kan?”
“Jadi bagaimana ini? Mamah ikut
berdosa lho!”
“Istri dikasih nafkah suami, dikasih
uang oleh suami itu halal Pah! Kalau Papah mau dosa ya silakan tanggung
sendiri, jangan bawa-bawa istri.”
“Kan Mamah kan nggak pernah
mengingatkan kalau itu dosa.”
“Lah papah sendiri sudah tahu dosa
...... Tahu korupsi itu dosa kan?”
“Tahu.”
“Ya sudah .... pikir sendiri ...
urusan dosa jangan bawa nama istri dan anak-anak!”
Hari itu bagi pak Narko tak habis pikir ada orang yang
pikirannya semacam istrinya. Tetapi ia juga tak habis pikir mengapa ia menjadi
seperti sekarang ini, tahu korupsi itu dosa tetapi masih memilih korupsi. ***




















.jpeg)

