Assalaamu'alaikum!

TERIMA KASIH BANYAK SAHABAT YANG SUDAH BERKUNJUNG KE SINI ............ ......

Kamis, 09 Juli 2015

Edukasi : NYONTEK ITU DOSA BESAR



Dosa itu urusan agama. Yang berhak berbicara bagusnya adalah guru agama, agama apapun. Biasanya pernyataan dosa atau tidak dosa dasarnya adalah dogma. Agama tidak boleh ditelusuri secara logika, karena nanti pasti akan menjadi bahan perdebatan yang sangat panjang.
Nyontek itu urusan ujian. Pelakunya adalah siswa atau peserta ujian. Jika siswa pelakunya, maka itu merupakan sebuah bentuk kenakalan siswa, kenakalan anak atau apa saja yang setara dengan itu. Jika pelaku nyontek itu orang dewasa, maka itu merupakan kenakalan orang dewasa. Kenakalan anak-anak bisa dimaafkan. Seharusnya orang dewasa yang memaafkan kenakalan anak-anak, jadi semestinya tidak boleh ikutan anak-anak yang nyontek. Itu logikanya. Sebab kalau

Cerpen : KUJANG SAMBOJA


Jantung Samboja berdetak keras. Jalan menuju desa kelahirannya telah di depan mata. Angkutan pedesaan yang ditumpanginya berhenti untuk menurunkannya. Setelah angkutan pedesaan melanjutkan perjalanan, laki-laki tua itu sendirian di ujung desa Tretes, desa kelahirannya. Mata tuanya tiba-tiba terasa panas, tanpa sadar ia menyeka dengan punggung tangannya. Beberapa jenak kemudian ia memandang jauh di seberang persawahan , mulutnya terkatub. Dari jauh sebatas mata memandang, Tretes tampak tak berubah. Laki-laki itu kini benar-benar menangis. Lutut tuanya tak sanggup menahan rasa harubiru di dadanya. Tubuhnya jongkok, lututnya bertelekan tanah.
“Tretes….. !” Samboja bergumam menyebut nama desanya. Air matanya semakin deras.
Tiga puluh tahun silam laki-laki itu meninggalkan desanya. Tepat sekarang seperti janjinya terhadap dirinya sendiri, ia akan datang lagi. Benar-benar Tuhan mengabulkan keinginannya dengan diberinya umur panjang.
Di desa itu Samboja sebenarnya sudah tak punya siapa-siapa. Sanak saudara tak ada. Dialah orang terakhir dari keluarganya yang meninggalkan Tretes setelah rumah warisan orang tuanya dijual untuk bekal merantau ke kota. Kedatangannya ke Tretes hanya satu tujuan, ingin memberikan kujang perak bergagang kayu pinang kepada Lentik
“Tapi ….. apakah kujang itu masih ada?” pertanyaan itulah yang muncul dalam hatinya.
Samboja ingat benar ketika benda itu ia kubur bersamaan waktunya dengan pemakaman Narada, suami Lentik. Tiga puluh tahun lalu baginya seterang bayangan kemarin sore. Saat-saat hatinya menjadi remuk redam dengan dinikahkannya Lentik dengan laki-laki teman sepermainannya waktu kecil.
Lentik bukanlah nama sesungguhnya. Nama gadis itu Lestari. Nama Lentik adalah panggilan sayang Samboja pada gadis itu, sebab bulu mata Lestari memang lentik indah .
“Kenapa melihatku seperti itu?” tanya Lentik menyadarkan Samboja.
“Aaa… anu…. kagum saja, pada bulu matamu.” Samboja tergagap.
“Kan tiap hari Akang melihatnya.”
“Justru itulah aku sedang bingung, kenapa aku tak pernah jemu melihat bulu matamu yang indah. Kau tampak begitu mempesona… anggun…. hmhhhh….. bikin gemas……”
“Huh! Rayuan gombal!” kata Lentik namun tak urung tawanya pecah juga sambil mencubit lengan Samboja. Dada Samboja berdetak kencang.
“Yaaaa… memang aku rasanya hanya bisa merayu. Untuk mengharapkanmu lebih jauh rasanya sulit, ayahmu tidak setuju, buktinya kalau melihat aku mukanya gelap. Tak enak dilihat. Jadinya aku segan, bahkan takut.”
“Sebenarnya itu kan alasanmu untuk menjauh dariku ya Kang?”
“Ooo tidak, tidak…. tidak. Aku benar-benar takut pada ayahmu. Aku tahu diri, aku minder pada ayahmu. Ayahmu orang kaya. Aku hanya seorang pedagang barang souvenir, batu akik, cincin, replika senjata tradisionil, gelang akar bahar….. “
“Yaaa.. aku tahu, sebenarnya yang dibenci ayahku itu bukang Akang, tapi ya barang-barang jualanmu itu Kang. Barang-barang jualan Akang itu berbau mistis, klenik, berbau-bau aliran hitam, dan sejenisnya.”
“Ya menurut aku itu biasa saja. Aku ambil barang-barang itu dengan cara biasa, bukan dari bertapa tetugurpati geni atau sejenisnya. Aku beli barang-barang itu dari pasar batu akik Jatinegara. Apa itu berbau mistis? Paling juga itu alasan ayahmu yang memang tidak suka padaku atau mungkin pada keluargaku. Atau karena di sini sebatang kara, tak ada sanak keluarga, tak ada yang membuat kebanggaan keluarga besarmu. Iya kan?”

“Hmh…. tak tahu lah Kang. Tapi Akang serius suka sama aku kan?”
“Ya serius.”
Kalau serius, lamar aku Kang! Bagaimana jawaban ayah nanti saja urusan belakang. Aku tidak ingin pacaran … malu Kang.”
“Lah kita ini sekarang di pinggir kali berduaan. Pacaran bukan?”
“Ya iyalah, mungkin ini yang namanya pacaran. Ya kebersamaan seperti inilah yang membuat aku malu. Ini desa Kang, bukan kota ……
“Kenapa harus malu, aku tidak pernah ngapa-ngapain kamu. Lentik adalah gadis terhormat yang harus aku jaga. Aku tahu diri, walaupun aku tidak pandai, tapi aku mengerti agama.”
“Syukurlah kalau Akang mengaku mengerti agama.”
Beberapa jenak keduanya diam. Semilir angin sepoi-sepoi membelai persawahan desa Tretes sore itu. Hawa sejuk begitu meresap ke hati Samboja. Kehadiran Lentik dalam hidupnya membawa rasa bahagia. Ia membayangkan betapa bahagianya jika bisa hidup berumah tangga dengan gadis itu. Punya anak-anak yang lucu, menggarap sawah di desa. Makan di dangau berdua, sementara anak-