Jam 14.00 telah lewat.
Salma telah menunggu panggilan dari Pak Bintang
Fajar, dosennya, setengah jam yang lalu. Gadis itu gelisah. Menunggu, gelisah.
Mau dipanggil masalah apa, juga gelisah. Apalagi cuaca semakin mendung. Membuka
WA menambah pikiran tak keruan. WA isinya banyak yang tak penting. Mau membaca,
tak membawa buku bacaan. Mau membaca bahan kuliah tadi pagi, masih ingat.
Ting! Ting!
Salma terhenyak. Telephon masuk. Afnan! Gumamnya.
“Hai
Salmaaa...... lagi bengong ya?!”
“Kok tahu?” Salma
kaget. Pertanyaan sahabatnya itu begitu tepat mengena.
“Hehee.....
dari dulu juga begitu! Kalau sendirian pasti bengong.”
“Aaaaah....
kamu Nan! Kirain kamu sudah jadi dukun ramal. Ramalanmu tepat!”
“Whahaha!
Kamu Sal! Aku mau liburan niiih ..... kutinggalkan Yogya untuk sementara, kita
ketemuan hari Minggu besok! Kita main ke Panyaweuyan! Lihat terasering, juga akan
kukenalkan kamu ke seseorang!”
“Aduuuh....
ngabibita bae Afnan , eh siapa dia? Calonmu kah? Tapi...... aku aduuuh maaf Nan
.... maaaaf....”
“Maksudnya?”
“Ngg.....
ntar ya Nan, ntar kita sambung lagi!”
Salma buru-buru memutus telephone dengan sahabatnya.
Pak Bintang melampaikan tangan memberi isyarat memanggil dirinya. Ia tak peduli
apa kata Afnan nanti. Gadis itu lebih takut jika dosennya marah. Urusannya
dengan nilai. Jika yang marah Afnan, urusannya
gampang. Dipuji cantik saja pasti luluh marahnya.
gampang. Dipuji cantik saja pasti luluh marahnya.
Dengan menata nafas, meredakan detak jantung, Salma
berjalan meninggalkan kursi taman yang berada di kompleks depan ruangan dosen.
Satu langkahnya mendekat ke arah Pak Bintang, dosen muda yang ganteng.
“Salma ... ayo masuk. Bapak ada perlu sedikit.”
kata laki-laki itu sambil mendahului masuk ruangan.
“Iya Pak...”
Salma masuk ruangan yang lumayan luas. Ada tiga
sekat untuk empat dosen, dengan satu sofa untuk menerima tamu empat dosen
tersebut. Ruangan lain demikian pula.
Satu dosen yang ada di ruang sekatan sebelah keluar
melewati Pak Bintang dan Salma. Laki-laki itu mengagguk ke arah rekannya.
“Mau ke mana Pak?” tanya Pak Bintang.
“Konsul ke Purek Tiga, untuk acara bakti
mahasiswa.”
“Ooo.. silakan.”
“Calon asisten nih?”
“Iya nih, bibit unggul.” Kata Pak Bintang sambil
terkekeh.
Mendengar dialog seperti itu hati Salma berdebar.
Asisten? Sama sekali tak pernah terlintas kata-kata itu dalam dirinya. Tapi ia
hanya membatin dalam. Itu hanyalah kata basa-basi kedua dosen itu.
“Salma .... Bapak minta maaf, menghambat kamu
pulang.”
“Enggak Pak.”
“Kamu tahu kenapa Bapak memanggilmu ke sini?”
“Enggak.”
“Kamu tahu Pak Wardana bilang apa ke Bapak?”
“Enggak.”
“Ituuuu.... pertanyaan singkat beliau.”
“Oooo ... asisten?”
“Ya itu!”
“Maksudnya apa Pak?”
“Nilai UTS kamu paling bagus. Bapak berkesan
banget. Pekerjaanmu sempurna, sudah itu tulisanmu bagus lagi. Bapak suka.”
“Och...”
“Kamu suka mendengarnya?”
“Iya, iya, suka Pak. Alhamdulillah .. terima kasih
atas nilainya.”
“Mau bantu Bapak nggak?”
“Bantu apa?”
“Mengoreksi hasil UTS kelas lain.”
“Apa Pak?!” Salma kaget.
“Kebetulan Bapak juga mengajar di universitas
lain.” kata Pak Bintang sambil menyebut sebuah perguruan tinggai swasta yang
ternama di kota kembang ini.
“Maksudnya mengoreksi apa Pak?”
“Salma, Salmaa... mengoreksi itu ya mengoreksi hasil UTS
mahasiswa lain. Diperiksa, yang benar diberi tanda, yang salah dicoret, diberi
skore ... nanti baru diolah jadi nilai sementara. Bisa?”
“Tapi Pak?”
“Kamu pasti bisa kok!”
Sore itu adalah pengalaman baru
bagi Salma. Mahasiswa semester tujuh itu tak membayangkan sama sekali bahwa di
dalam tas-nya terdapat berkas-berkas UTS para mahasiswa. Mengoreksi? Apakah
sama seperti yang dilakukan oleh para asisten dosen? Juga oleh para dosen.
Ini bagaikan mimpi. Memang ia
sadar kata-kata Pak Bintang. Hasil UTS-nya terbaik. Dan memang gadis itu juga merasakan
ketika mengerjakan UTS tak ada hambatan sama sekali. Jika nilainya bagus, itu
wajar. Yang tidak wajar adalah ketika tiba-tiba saja Pak Bintang menyuruh
dirinya membantu mengoreksi. Mungkinkah begini jalan menjadi asisten dosen?
Asisten Dosen? Dosen? Menjadi
dosen? Rasanya lucu. Bahkan belum pernah terpikir. Ia kuliah mengejar cita-cita
menjadi praktisi ilmu. Bukan semacam dosen yang lebih banyak bergulat di dunia
teoterik. Ini menurut pandangannya. Mungkin gadis itu juga belum tahu, bahwa di
samping pekerjaan menjadi dosen, banyak dosen yang menjadi praktisi. Menjadi
konsultan perusahaan, lembaga pemerintah atau swasta dan sebagainya.
Pukul lima sore Salma mengurung diri di kamar kost.
Tak biasanya. Jam-jam seperti itu biasanya ia
memilih keluar mencari persiapan makan malam dengan teman satu kosan, tetapi
kali ini tidak. Ia telah membelinya di pinggir jalan dekat kampusnya tadi. Maka
ketika teman lain mengajak keluar, ia menolak dengan halus dengan dalih ada
tugas mendadak. Dan memang pekerjaan dari Pak Bintang adalah tugas mendadak.
Afnan!
Ia ingat bahwa tadi siang telepon dengan sahabatnya
itu terputus. Sambil rebahan di kasur ia menelpon Afnan.
“Ngapain
nelpon segala! Malas ah!” kata Afnan di seberang.
“Eeeh ....
ada alasannya Nan! Ini ada misteri! Makanya aku putus telepon tadi!”
“Misteri
apaan?”
“Aku mau jadi
asisten dosen haha!”
“Hah? Asisten
dosen?”
“Tadi itu aku
sedang nelpon kamu, aku dipanggil Pak Dosen itu. Makanya aku tutup teleponmu.”
“Wuaahhh.....
Sal .... terus gimana dongengnya sih?”
Dengan penuh semangat Salma bercerita tentang
kronologi dirinya diminta membantu dosennya. Dengan sabar juga Afnan
mendengarkan cerita Salma. Usai bercerita, Afnan mengusulkan:
“Minggu besok
wajib kita ketemuan. Aku ingin tahu kaya apa wajah asisten dosen yang baru
haha!”
“Aaah bisa
saja kamu Nan!”
“Sambil kamu
bawa pulang tuh koreksian ke Majalengka! Aku nggak percaya kamu cerita gitu.”
“Astaghfirullaaaah
Afnan! Segitunya kamu ya! Masa sama sahabat sendiri kamu nggak percaya?”
“Kalau urusan
cowok sih aku percaya! Kamu nggak pernah bohong ke aku kalau kamu selalu
jomblo!”
“Aaaahhh...
Afnaaaan!”
“Tapi kalau
ini urusan pekerjaan, aku nggak percaya!”
“Iya, iya,
ntar besok pagi aku pulang. Koreksian aku bawa pulang. Minggu ketemuan. Tapi
jangan di Panyaweuyan! Terlalu jauh! Di alun-alun saja!”
“Uuuh enak di
kamu, dekat rumah. Di Gunung Panten, kita naik gantole bareng!”
“Terserah
kamu laaah!”
Malam itu malam yang penuh sensasi. Ballpoint merah
yang selama ini hanya ia lihat dipegang oleh para gurunya semasa di SMA, kini
ada di tangannya. Coretan merah. Guratanku? Batinnya. Asisten dosen? Oooh ....
bukan! Jauh, aku hanya membantu Pak Bintang.
***
Minggu siang.
Kedua sahabat itu akhirnya mengambil keputusan yang
berbeda dengan sebelumnya. Tidak ke Panyaweuyan, tidak pula ke Gunung Panten.
“Kita bertemu
di kantin sekolah saja! Masing-masing bawa camilan!”
Telah tiga tahun mereka meninggalkan SMAN 1 Majalengka.
Sementara almamaternya itu masih belum banyak berubah. Jika hari Minggu, hanya
ada dua orang penjaga yang piket. Sementara gerbang kecil di sebelah timur
gerbang utama tetap familiar, terbuka untuk siapa saja yang mau beraktivitas di
hari Minggu. Ada yang bermain basket, baik di lapangan luar maupun lapangan
dalam. Ada yang bergerombol memanfaatkan wifi gratis juga bisa.
“Hey cantik, mana? Katanya ada yang mau kamu
kenalkan sama aku?” tanya Salma ketika keduanya sudah duduk bareng di kantin.
“Aduuh .... sayang sekali Sal, kemarin Arjuno nggak
jadi ikut ke sini. Mendadak ada acara di Surabaya dengan keluarganya.” jawab
Afnan sambil membuka wadah camilan.
“Jadi nama orang itu Arjuno? Orang Yogya?”
“Hehee... iya ... iya ..... orang sono asli.”
“Nan, hati-hati lho.... menurut cerita pewayangan,
Arjuno itu ksatria yang punya banyak kekasih lho!” kata Salma menggoda.
“Biar saja! Itu kan di pewayangan! Yang ini kan di
dunia nyata. Nama Arjuno itu, afiliasinya bukan ke masalah dia punya banyak
wanita, tetapi dari segi gantengnya. Pendiamnya. Sifat menaknya yang sopan
santun. Bicara pelan ... uh.... gitu Saaal .... jangan merusak acara!”
“Hihihi!”
“Kamu tuuuh, dari SMA sampai sekarang jomblo
melulu. Ada yang suka malah didiemin!”
“Hah? Siapa yang suka?”
“Itu kakak kelasmu! Aktivis!”
“Kak Andra?”
“Ya iyalaah .. siapa lagi.”
“Nggak tahulah Nan. Dari dulu dia orangnya
misterius. Sayang, dia pernah memberi aku harapan, walaupun hanya sekali, dan
tidak terlalu serius. Tapi ... Afnaaan... Afnan, entah karena aku pernah diberi
harapan sedikit, ibarat sebutir debu, tapi bagi aku, aku anggap dia serius.:
“Caranya kamu menganggap Kak Andra serius
bagaimana?”
“Ya kuadukan laah!”
“Kolokan! Gitu saja kamu adukan ke orang tua!”
“Waaahhhh... waaahhh..... kamu salah menangkap
kata-katamu. Aku belum ngomong! Memang tempat mengadu itu cuma orang tua? Ayah
ibu? Kakek? Uwak? Paman? Ya nggak laah!”
“Terus ngadu ke siapa?”
“Ke Tuhan!”
“Wuaaahhh.... sudah nggak main-main nih kalau sudah
sampai ngadu ke Tuhan.”
“Tapi memang begitulah. Aku jarang menganggap
siapapun main-main. Aku selalu khusnudzon, selalu berprasangka baik kepada
siapa saja.”
“Wuiiihhhh...... hebat Salma!”
“Heheeee...... bercanda, bercandaaa....!”
“Ah kamu Sal .... kirain serius! Ya sudah, gini nih
aku penasaran banget kebarmu tempo hari. Jadi bener kamu diminta membantu
dosenmu mengoreksi hasil UAS?”
“Bener niiih... nih aku bawa. Malam ntar aku
koreksi, Senin aku mbalik lagi ke Bandung.” Kata Salma sambil mengeluarkan
amplop berisi hasil UTS. Afnan memegang kemudian melihat isinya. Gadis
sahabatnya itu hanya menggeleng perlahan.
“Hebat ... hebat .... calon dosen niiih .....”
“Apa aku bisa Nan? Aku nggak kepikir jadi dosen
lho, tapi ketika kemarin Pak Bintang meminta aku membantunya, sepertinya ada
pikiran pengen jadi dosen juga sih. Yaaaah.... walaupun keinginan itu baru
seujung rambut.”
“Mau jadi dosen, jadi ibu dosen atau nyonya dosen?”
“Apaan sih?”
“Jadi dosen jalannya panjang, nah kalau mau jadi
nyonya dosen, lebih cepat.”
“Nggak ngerti!”
“Itu dosen yang nyuruh kamu, orangnya muda apa
tua?”
“Muda.”
“Sudah punya istri?”
“Ya nggak tahu laaaaah!”
“Umurnya jauh dengan kita nggak?”
“Mmm .... paling beda dua atau tiga tahun dengan
kita. Perasaan ketika aku mulai masuk kuliah, dia belum jadi dosen. Tapi sering
bolak-balik ke wilayah kantor dosen.”
“Kamu hafal?”
“Dia ganteng Naaan....!”
“Aduuuuh ..... sudaaah ..... ketahuan Saaal! Itu
... aduuuh Sal, kamu harus hati-hati.”
“Hati-hati kenapa?”
“Ya aneh laaah ... mana ada dosen muda mengangkat
asisten. Ada juga modus! Awas kamu Sal!”
“Awas apa! Aku laporin Kak Andra!”
“Apa urusannya dengan Kak Andra?”
“Yaaaahhh ... kan dulu di SMA ini kamu pernah
dekat.”
“Dekat apaan? Dia yang mendekati, aku yang
berfikir. Eh, dia malah misterius. Nggak tahu apa maksudnya dia.”
“Ya kamu sendiri sampai sekarang nggak ada gacoan!”
“Itu artinya aku dilindungi Tuhan. Biar kuliahku
lancar nggak ada gangguan!”
“Tapi gangguan malah dari dosen!”
“Uuuh .. nggak tahu lah Nan!”
Malam hari.
Mengoreksi hasil UTS sudah beres. Punggung dirasa
pegal. Salma merebahkan tubuhnya di kasur. Matanya menatap dinding. Banyak foto
kenangan dirinya ketika di SMA masih terpajang di sana. Ketika bersama dengan
Andra, kakak kelas gadis itu yang pernah membawa harapan datang kepadanya,
tetapi kemudian padam kembali. Salma menyebutnya kakak misterius. Kakak yang
yang sulit diduga hatinya.
Perlahan ia terlelap.
Salma ingat, dulu ketika ia mengantar Andra
meninggalkan almamater SMA, pemuda itu datang menemui dirinya.
“Ingat pesan Kakak .... “
“Pesan yang mana? Pesan Kak Andra banyak banget.”
“Nggak boleh pacaran dulu.”
“Oooh... “
“Kalau menanam perasaan sih nggak apa-apa, tapi
ntar semuanya akan ditentukan oleh takdir. Salma masih kecil, baru juga naik ke
kelas XII.”
“Ya Kakak misterius. Kakak juga, baru juga lulus,
nasehatnya kayak orang tua ....”
“Iiihhhh.... bisa saja Salma. Eh, gini Salma, mau
dong Kakak dikasih kenang-kenangan.”
“Boleh, minta kenang-kenangan apa? Pulpen?
Gantungan kunci? HP?”
“Nggak ... nggak mau itu, itu barang-barang pabrik!
Nggak ada seninya sama sekali. Salma kan pinter melukis.... kalau punya lukisan
yang bagus, bolehlah aku simpan.”
“Benar? Mau lukisan kecil?”
“Mau doong...”
“Tunggu sebentar...”
Salma masuk. Beberapa saaat kemudian gadir itu
keluar sambil membawa lukisan kecil. Andra terperangah.
“Iniiii.... waaah.... bagus banget Salma!”
“Ah gini saja dibilang bagus!”
“Bagus. Asli .... warnanya .... aduuuh......”
“Tapi belum ada piguranya.”
“Ntar aku pasang pigura.... “ kata Andra sambil
menerima lukisan itu. Beberapa saat mata Andra menatap lukisan. Mungkin ia
mencari makna yang ada dalam setiap guratan jemari gadis yang di dekatnya.
“Kenapa warnanya ungu Salma?”
“Nggak tahu.”
“Kesendiriankah?”
“Nggak tahu.”
“Terus, bulannya? Kenapa ada tiga? Emmm..... aku
ramal nih Salma.”
“Ramal apaan?”
“Tiga tahun lagi Salma bakal punya sejarah dalam
hidup. Ya, sejarah ..... tunggu suatu saat. Kita akan buktikan bersama.”
“Kita?” tanya Salma heran.
“Ya kita. Andra dan Salma.”
“Kakak misterius...”
“Kita juga harus berpisah selama tiga tahun,
seperti bulan ini, tiga buah bulan yang terpisah....”
Salma tidak paham apa maksud kata-kata Andra. Sejak
ia mengenal Andra, pemuda itu memang sulit ditebak. Ia tampil dengan gayanya
sendiri. Tak ada keterus terangan. Selalu saja bahasa-bahasa yang tak pernah ia
mengerti. Bahkan tentang ramalan tiga tahun akan ada sejarah dalam hidupnya.
***
Suatu kali di kampus, Salma kaget.
Andra datang. Tak ada kabar berita pendahuluan.
Entah ada urusan apa pemuda itu datang. Seperti apa yang pernah ia katakan
dulu, tiga tahun berpisah. Berpisah juga sebenarnya bukan sesungguhnya.
Acapkali pemuda itu bertemu dirinya, tak ada cerita apa-apa.
“Ada apa Kak Andra datang? Tumben.”
“Jangan begitu. Ini sudah tiga tahun Salma.
Ternyata ramalanku benar adanya. Ada sejarah dalam diri Salma. Sayang sekali bukan
sejarah tentang kita.”
“Ada apa Kak?”
“Aku baru tahu dari Afnan, sahabat kita. Salma
sekarang sudah dekat dengan seorang dosen di sini?”
“Kalau iya, memangnya kenapa?”
“Bukan sejarah semacam ini yang aku harapkan Salma.
Tetapi sejarah tentang kita! Waktunya memang benar, tiga tahun! Tapi ....
tapiii... apa Salma tidak paham apa yang aku katakan?”
“Kak Andra tak pernah mengatakan apa-apa yang harus
aku pertanggungjawabkan.”
“Aku pernah meminta kenang-kenangan. Lukisan itu. Aku
pernah berjanji juga ....”
“Janji yang mana?”
“Aku akan ajak Salma keliling dunia ... kalau aku
sudah sukses nanti! Bukankah aku pernah katakan itu?”
“Iya. Ingat, tetapi Kak Andra katakan itu sambil
tertawa! Itu artinya bercanda.”
“Bukan Salma, tertawa itu artinya aku gembira.”
“Bagaimana mungkin aku percaya?”
“Oke! Akhir semester ini, Salma aku ajak ke Bali.
Ke Bali dulu yang dekat, ntar suatu saat aku ajak keliling dunia. Mau ke mana?
Ke Seoul? Tokyo? Istanbul? Paris?”
“Kakak serius?”
“Dari dulu aku serius Salma. Hanya mungkin aku beda
dengan orang lain. Aku memang suka hidup di dunia yang mirip fiksi. Ada
riak-riak, ada kekhawatiran, ada pesan, ada misteri.”
“Hmh....”
“Akhir semester kita berlibur ke Bali, berdua.
Emh.. maaf, bertiga, dengan Andari, adikku. Biar dia yang menemani Kak
Salma-nya di perjalanan.”
Salma mendesah. Kalimat Andra benar-benar lugas.
Tak ada basa-basi.
Tak urung gadis itu berfikir, apakah sejarah
setelah tiga tahun itu tentang dosennya, Pak Bintang, ataukah dengan Andra,
kakak kelas yang misterius?
Hhhh..... gadis itu mengulang desahnya mengulang
desahnya.
***
Atas seijin orang tuanya, Salma berangkat ke Bali.
Mereka bertiga. Andra, Andari dan Salma sendiri.
Semua telah dirancang oleh Andra. Andra pesan dua kamar, satu untuk dirinya,
satu untuk Salma dan Andari.
Pagi setelah sarapan di hotel Puri Dibia, ketiganya
telah siap untuk berkeliling. Andra keluar sejenak melihat mobil travel yang
dicarternya untuk berkeliling pula Dewata.
“Pagi ini acara kita ke Kuta, tempat paling dekat
dengan hotel kita. Setelah itu kita ke Tanah Lot di utara Kuta, Bedugul,
terasering Tegalalang, terus ke Kintamani.” kata Andra setelah menemui pemandu
wisata di luar.
“Kak .... kita keluar sebentar....” kata Salma
memberi isyarat kepada Andra. Andra mahfum apa yang akan dikatakan Salma tidak
perlu kedengaran oleh adiknya.
“Ada apa?”
“Kak Andra... kita nggak perlu ke Kuta.”
“Aduuh Salmaaa.... Kuta itu salah satu ikon Bali.
Kenapa?”
“Pokoknya nggak boleh.”
“Iya tapi apa alasannya?”
“Kalau Kak Andra maksa, aku mau pulang hari ini
juga.”
“Iya tapi apa alasannya?”
“Untuk kebaikan De Andari .... juga untuk Kak
Andra. Aku nggak rela kakak ke Kuta. Terjemahkan sendiri!” kata Salma ketus.
Tak urung Andra merenung beberapa jenak. Setelah
itu pemuda itu mendekati Salma, berdiri di hadapannya. Kedua lengannya dibuka
dengan diringi senyumnya.
“Okeee..... kita nggak ke Kuta.”
“Trims.”
“Kok trims? Terima kasih gitu.”
“Terima kasih.”
“Kok nggak pakai kak?”
“Terima kasih Kak Andraaa....” kata Salma hampir
tak kedengaran. Gadis itu menahan malu didikte oleh Andra. Muka gadis itu
memerah.
“Hmmhhsss .... Salma, kalau sedang malu gini ...
uuuh... tambah cantiiiikk..... uh!” kata Andra sambil menepok jidat sendiri.
“Ngaco ah!”
“Salma ... ternyata kamu misterius juga. Pagi-pagi
membuat teka-teki dalam hatiku, aku menjawab. Tapi juga tidak tahu apakah
jawabanku benar.... terima kasih Salma! “
Akhirnya diputuskan hari itu obyek wisata ke
wilayah utara, minus pantai Kuta. Sementara di hari kedua direncakan ke wilayah
selatan semacam obyek wisata patung Garuda Whisnu Kencana.
Di hari kedua sore hari mereka bertiga berkunjung
ke Joger, pusat souvenir unik Pabrik
Kata-kata. Tempat yang tak jauh dari hotel tempat menginap membuat mereka
nyaman untuk berbelanja. Banyak ragam T-shirt dengan tulisan unik kreatif.
Batik pantai khas Bali. Clana dengan disain yang bermacam-macam. Aneka sandal,
dan masih banyak lagi.
Salma membeli bebarapa potong T-shirt untuk
oleh-oleh keluarga di Majalengka. Di sebuah sudut etalase Salma mengambil
sehelai T-Shirt warna putih. Ia terpesona dengan kata-kata yang tertulis di
sana. Ia memisahkan barang yang satu itu untuk Andra.
Di lobby hotel ketiganya duduk-duduk sambil menanti
malam sambil menunggu jemputan yang akan membawanya ke bandara Ngurah Rai malam
nanti.
“Ini untuk De Andari kakak kasih hadiah sendal lucu,
sama kaos lucu juga .... “ kata Salma sambil memberikan bingkisan kepada adik
Andra.
“Waaahhh ..... terima kasih hadiahnya. Tapi
memangnya hadiah apa?” kata gadis kecil SMP berlagak pilon.
“Ya hadiah nemenin kakak selama di sini.”
“Hihihi.... iya.... jadi tahu Bali nih Kak.
Habisnya Kak Andra si yang ngajak, tabungannya banyak si kakak itu ... ntar kan
ada hadiah dari kak Andra juga.”
“Uuuh kamu serakah Anda!” sergah Andra menimpali
kata-kata adiknya.
“Biar... Kak Salma, Kak Andra ... Anda masuk dulu ya
... mau cobain nih kaos. Mau langsung dipakai ntar malam naik pesawat!”
Andari masuk ke kamar. Salma dan Andra berpandangan
sejenak.
“Kalau Ini hadiah untuk Kak Andra ... semoga
suka...” kata Salma seraya memberikan tas berlabel Joger.
“Apa ini?”
“Terima kasih sudah diajak main ke Bali. Aku baru
bisa membalas dengan kaos saja ....”
“Jangan begitu Salma ... ini bukan perjalanan
bisnis. Ini perjalanan untuk menguji kepercayaan.”
“Hmh... misterius lagi...”
“Nggak .... nggak .... maaf... jangan diambil hati.”
Menjelang matahari terbenam, keduanya duduk di
pelataran hotel. Perlahan Andra membuka bungkusan hadiah dari Salma. Salma
menunduk. Sejenak setelah kaos dibuka, Andra membaca tulisan yang ada di sana.
"Kesuksesan yang paling sukses itu adalah berhasil memiliki,
merawat dan menumbuhkembangkan kehidupan yang bahagia (penuh rasa syukur) di
dunia yang fana dan penuh misteri ini untuk kemudian berharap jiwa kita layak
diterima oleh Tuhan Yang Maha Baik dan Maha Kuasa di surga kelak."
“Salma....”
“Ya Kak?”
“Kaos ini untukku?”
“Iya untuk Kakak.”
“Beserta tulisannya?”
“Semuanya.”
“Beserta maknanya?”
“Jika Kak Andra suka, ambillah beserta maknanya.
Jika tidak, pakailah kaosnya saja. Mungkin saya bisa tersenyum lihat kakak memakai kaos
yang lucu.”
“Aku suka.”
“Hanya ini souvenirku untuk Kak Andra. Tak
banyak....., souvenir dari Bali ... dari Pulau Dewata. ” kata Salma sambil
menggurat-gurat lantai halaman hotel dengan ranting yang diambil dekat kakinya.
“Salma .... lihat aku....” kata Andra meminta.
“Ya Kak..” kata Salma sekilas.
“Kenapa kita selalu bermain lewat media? Kenapa
dari dulu kita tak pernah berterus terang. Kenapa kita selalu begini
menebak-nebak.”
“Memang begini adanya ... tiga tahun tak pernah ada
sesuatu yang pasti.”
“Salma ... aku ingin menguji takdir. Aku bukan
peramal, namun aku merasakan tiga tahun setelah kita perpisah ... akan ada
sejarah. Dan yang aku harap memang sejarah tentang kita, bukan yang lain.”
“Hmh....”
“Salma, terima kasih souvenirnya. Aku suka sekali.
Kalimatnya indah. Maknanya dalam. Tetapi aku
yang aku inginkan bukan souvenir yang seperti ini ....”
“Kak?”
“Aku ingin souvenir dari Majalengka.”
“Bukannya dulu Kakak sudah simpan lukisanku.”
“Bukan itu.”
“Lalu apa?”
“Souvenir dari Majalengka. Souvenir yang indah
tiada tara. Souvenir yang akan menjadi sejarah setelah tiga tahun aku uji
takdirnya.”
“Apa Kak?”
“Ingin tahu souvenirnya?”
“Yah.”
“Souvenirnya adalah gadis Majalengka, yang aku
kenal sejak dulu. Sekarang gadis itu ada di dekatku....”
Salma tertunduk dalam mendengar kata-kata Andra
yang begitu jelas. Mata gadis itu serasa panas. Ada air mata yang mengambang
perlahan.
“Gadis yang melarangku mengunjungi pantai Kuta,
karena ketidakrelaanya. Larangannya adalah souvenir yang tak ternilai bagi
Andra, gadis yang peduli kepada Andra. Andra yang misterius bagi Salma. Gadis ini...
yang aku harapkan menjadi sejarah, menjadi kakak Andari yang sesungguhnya....”
Salma menahan gejolak di dadanya. Tak urung ia
meneteskan air mata. Kata-kata itu baru ia dengar kali ini. Kata-kata yang ia
nantikan sejak dahulu. Kata-kata yang tak bermakna ganda. Adapun halnya dengan
Pak Bintang, dosennya, sama sekali tak ada tempat di hatinya walaupun Salma tahu laki-laki itu menyukainya. Memang sejak SMA dulu ia
selalu berharap hanya kepada hanya satu laki-laki. Andra.
Maghrib datang di jalan raya Kuta. Langit di atas
hotel Puri Dibia semburat jingga. Kenangannya tak akan ia lupakan. Malam itu
hatinya sangat bersyukur. Pesawat telah membawanya meninggalkan bandara Ngurah
Rai. Di atas ketinggian, ia rasakan bahagia yang sesungguhnya. Sesekali ia
menoleh ke arah Andra. Andra membalasnya dengan senyum sedikit. Penuh misteri.
Tapi kini Salma telah tahu, apa yang ada di balik misteri itu. Ada cinta Andra.
***
Majalengka, 28 Oktober 2016
* Request Salma Aulia Salsabila – XII MIPA 7
SMAN 1 Majalengka 2016/2017