Assalaamu'alaikum!

TERIMA KASIH BANYAK SAHABAT YANG SUDAH BERKUNJUNG KE SINI ............ ......

Minggu, 11 Juni 2017

Gerakan Nasional Tanpa Gadget (Bagi Anak)

 
Sumber gambar : feed.id
Pengantar
Kita hidup di jaman seperti sekarang, tak bisa dihindari. Sebagaimana kita tak bisa menolak ketika Tuhan memilihkan kita kedua orang kita yang melahirkan. Berbahagia hidup di era digital, atau gelisah di era digital, keduanya relatif. Yang pasti, semua yang ada sekarang adalah sebuah keniscayaan yang sedang kita jalani. Sebuah dunia yang terbuka tanpa batas, hingga mampu menembus apa yang dulu kita sebut sebagai benteng.

Perkembangan “Peradaban” dengan Indikator Gadget

Perkembangan teknologi hasil dari kreativitas pikir manusia acapkali diidentikkan dengan perkembangan peradaban. Tolok ukurnya adalah produk barang. Bisa bangunan, bisa rekayasa (baik biologi maupun non biologi). Semakin barang yang diproduksi memudahkan manusia untuk melakukan sesuatu dibanding cara manual, maka barang tersebut disebut sebagai barang yang hebat.
Sinergisitas antara produksi barang dengan faktor ekonomi masyarakat, tentu hal pasti. Barang yang hebat mendatangkan permintaan (demand) yang tinggi dari masyarakat. Produksi untuk memenuhi permintaan pasar akan melibatkan banyak tenaga kerja. Pembukaan pabrik akan memberikan kesempatan kerja bagi banyak orang. Artinya, meroketnya sebuah produk barang hebat, akan berbanding lurus dengan peningkatan ekonomi sebagian masyarakat. Sebuah fakta alamiah yang tak bisa ditolak.
Pun demikian dengan produksi gadget. Spesies yang tergolong dalam gadget misalnya smartphone, tablet, laptop, netbook, dan PS mengalami produksi yang demikian besar. Permintaan masayarakat, dan persaingan antar produsen dengan memberikan iming-iming fitur yang lebih canggih tak pelak lagi menjadi pemicu. Berapa nominal yang dikeruk dari bisnis gadget saat ini. Salah satu sumber CIA World Factbook (http://www.indonesia-investments.com/id/budaya/demografi/item67) menunjukkan bahwa persentase pengelompokkan kuantitas manusia Indonesia 0 – 14 tahun (27,3%), 15 – 65 tahun (66,5%) , sisanya 6,1% . Melihat gejala umum di lapangan, semakin banyak orang Indonesia yang menggunakan lebih dari satu gadget. Itu artinya bisa saja jumlah gadget yang melebihi usia layak pengguna gadget. Jika usia layak menggunakan gadget untuk kelompok pertama dimulai sejak SLTP, taruhlah tinggal 5% , maka perkiraan pengguna akan menjadi 5% + 67% + 6% = 78% . Jika penduduk Indonesia dimisalkan sebanyak 250.000.000 jiwa, maka 78%-nya sekitar 195.000.000 jiwa pengguna gadget. Angka ini tentu cenderung naik. Artinya hampir tak ada kebijakan atau kekuatan yang mampu menghentikannya.
Sampai-sampai dalam sebuah seloroh, bahkan ada yang mengatakan bahwa kebutuhan primer manusia itu adalah : Sandang, Pangan, Papan dan Gadget.
Kondisi soasial budaya masyarakat kita saat ini sadar atau tidak telah menjadikan gadget sebagai salah satu tolok ukur “maju perabadan”-nya atau tidak. Seseorang akan merasa ketinggalan jaman jika tak mampu mengoperasikan gadget. Dengan harga yang tak terlalu mahal, bahkan counter-counter atau agen menawarkan kepemilikan dengan cara kredit, semakin banyaklah masyarakat yang menggunakannya.

Menimbang Baik Buruknya Pengaruh Gadget pada Manusia

Jaman sekarang berbeda dengan jaman dahulu. Dahulu, jika kita ingin tahu keadaan keluarga yang jauh, maka kita akan menulis surat, mengirimkannya lewat jasa Pos, menunggu balasan lewat Pos juga setelah beberapa hari atau beberapa minggu. Jika manusia jaman sekarang melihat hal demikian, sepertinya akan berkomentar “kok bisa ya hidup seperti itu?” Beda dengan adanya gadget yang dimiliki, suatu saat ingin kontak, dalam hitungan detik terlayani apa yang kita inginkan.

Senin, 23 Januari 2017

UN-ku Lebih Tinggi Daripada UN-mu? Kini Tak Lagi!

Tulisan ini dimuat di Harian Pikiran Rakyat - Korannya Jawa Barat Sabtu, 21 Januari 2017.

KONSEKUENSI PILIHAN MATA UJIAN UN


Setelah wacana UN ditiadakan, kini muncul aturan baru tentang pelaksanaan UN tahun 2017. Memilih mata pelajaran dalam UN. Ini luar biasa.

Dalam surat edaran Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0204/H/EP/2017 tanggal 11 Januari 2017 tentang Pendaftaran Peserta Ujian Nasional 2017. Seorang siswa calon peserta UN akan diwajibkan mengikuti 3 (tiga) mata pelajaran wajib yakni Matematika, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, ditambah dengan 1 (satu) mata pelajaran yang adalam jurusan/peminatan-nya. Dengan demikian pada masing-masing peminatan akan terdapat 3 (tiga) komposisi yang diambil siswa. Untuk peminatan MIPA yakni (1) Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Fisika, (2) Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Kimia, (3) Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Biologi, untuk peminatan IPS yakni (1) Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Ekonomi,  (2) Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Sosiologi, (3) Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Geografi, untuk peminatan Bahasa yakni (1) Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Antroplogi, (2) Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Sastra Indonesia, (3) Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Bahasa Asing (Bahasa asing ciri khas sekolah).

Dampak Terkait Nilai UN

Dengan terbitnya kebijakan baru semacam ini, ada beberapa konsekuensi yang cukup memprihatinkan, terlepas apakah kebijakan tersebut telah melalui forum diskusi panjang dan sumbang saran dari banyak pihak atau belum, inilah beberapa prediksi dampak kebijakan baru tersebut.

Bebarapa hal berkaitan dengan“nilai” yang akan hilang : 

1.     Rerata UN sesama siswa satu peminatan/jurusan tak bisa dibandingkan lagi, sebab mata uji UN yang dipilih berbeda-beda. Tak akan ada lagi sesama teman mengatakan “Nilai UN-ku lebih bagus diandingkan nilai UN-mu”.

2.     Tak ada “juara” UN di sekolah atau di Kabupaten/Kota, sebab mata pelajaran yang